Guruku Tersayang

Saat lulus dari SMA, saya merasakan sebuah kebahagiaan yang terkira: akhirnya bisa keluar dari peraturan yang mengingat! Maklum, saya muda begitu bersemangat melihat dunia luar. Saat itu janji saya dan teman-teman satu angkatan adalah tidak akan pernah melupakan masa-masa SMA dan akan berkumpul di SMA lagi. Tapi ternyata, begitu kami melihat dan mengetahui dunia kuliah, tidak pernah terpikirkan lagi untuk kembali ke SMA. Tidak saya, maupun teman-teman yang lain. Masing-masing sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Tapi, tak pernah terpikirkan oleh saya bahwa saya yang pertama akan berada di sana sendirian.

Pada suatu pagi, saat tengah berada di lorong L2 Kampus Syahdan, ada telepon masuk dari adik saya — yang juga berada di SMA yang sama — yang mengatakan bahwa saya dicari oleh guru bahasa Inggris saya sewaktu SMA untuk mengajar ekskul English Conversation. WAH, pikir saya, kenapa enggak dicoba secara masih libur. Oke, selesailah dan jadilah saya mengajar setiap hari Kamis.

Hari Kamis pun tiba. Sebelum memasuki gerbang sekolah, saya merengek pada mama untuk mengantar saya sampai gedung sekolah. Bukan apa-apa, tapi terasa tidak enak ajah mengajar bersama dengan orang-orang yang dulu adalah guru-guru saya. Kasarnya, tidak mudah berpindah posisi dari murid menjadi rekan kerja (guru). Rasanya, aneh ajah.

Tapi mama menolak dan jadilah saya jalan sendirian dengan tegang. Pake telat lagi, berhubung dari Jakarta. Jadilah saat saya tiba, kelas sudah masuk dan sedang ditangani dengan salah satu guru. Aduh, entah mengapa, rasanya ingin menahan guru itu bersama saya. Tapi saya berpikir lagi, mungkin mereka tidak mau karena memang sudah bukan jam mereka mengajar lagi… Bukan begitu? Nah, dengan alasan itulah akhirnya saya menghadapi 20 anak SMA kelas 1 dalam satu kelas.

Wah, tak terasa di kelas itu pula saya pernah bersenda gurau dengan teman-teman, berdebat bahasa inggris (karena memang SMA saya sudah menerapkan sistem kelas per-lesson), kelas di mana saya bisa memandangi seseorang yang sedang berjalan di luar kelas (ahahahaha). Begitulah, memori kembali datang dan saya pun terdiam sejenak. Sejenak pula, tidak bisa berkonsentrasi pada apa yang mau diajarkan.

Tegang, pastinya.. Terlebih lagi saya terlambat sehingga tidak sempat membicarakan silabus dngan guru saya. Akhirnya saya bolak-balik keluar kelas untuk membicarakan silabus. Haha.

Saya sempat membahas tentang materi. Saat itu, mungkin karena mereka sudah lelah atau memang seperti itu, suasana di kelas sangat ramai. Teringat perkataan mama yang mengatakan bahwa saya harus bisa mengontrol kelas. Am I a bad teacher? pikir saya sejenak. Tapi wajar, ini kali pertama saya mengajar anak-anak SMA, which I used to be and I do remember how. Lagipula, sedikit tidak siap mental juga karena tadinya target saya di SD atau SMP (karena tahu belum pantas banget ngajar anak SMA). Tapi bagaimana lagi ketika yang dipanggil malah SMA.

Cukup panik saat itu, mesti diapain mereka. Ditambah lagi kelas ini dekat dengan ruang guru sehingga akan terdengar mereka jika kelas ramai. Sedikit tidak enak dengan guru-guru. Akhirnya, saya pun terpikir untuk merasakan menjadi mereka. Lelah dari pagi belajar: yang di barisan depan memperhatikan saya sambil ngantuk, yang di belakang enggak banyak yang ngobrol tapi lebih banyak yg lagi enggak konsen belajar. Intinya adalah, saat itu sudah pukul stengah4 dan mereka sudah ada di sekolah dari pukul7. Jadi, terbayang lelahnya kan? Kasihan.

Jadi, karena saya pernah berada di tempat mereka, saya pun bertanya mereka maunya apa (karena kan juga baru prtemuan awal). Barulah ribut, mulai menyebut salah satu anak untuk menyanyi. Hahaha. Daripada ganti jadi pelajaran menyanyi, jadilah saya ajak mereka untuk ngobrol. Pada akhirnya, malah saya tidak sesuai dengan silabus. Karena saya pikir trlalu berat untuk awal. Tapi memang saya trlalu berpola bahwa mereka juga mengerti bagaimana berdiskusi, akhirnya pembicaraan kami kacau. Tadinya ngomong tentang bahasa jadi ngomong tentang mereka. Ya sudah, mengalah saja.

Semakin saya melihat keadaan kelas, semakin saya merasa berterima kasih pada guru-guru saya dulu. Wah, tak terhitung sudah berapa kelakuan angkatan saya dan saya yang membuat pusing guru-guru. Dan kemudian, what had we done to you all? Saya harus memulai untuk mengajak satu angkatan reunian lagi nih.. Mungkin saat Ramadhan, yang memang kebiasaan juga. Dan mungkin, a little gift would be okay.

Advertisements

2 thoughts on “Guruku Tersayang

  1. ph0enixwr1ght says:

    ah 🙂
    true…. very true.
    Teachers sometimes least appreciated by people around them 🙂
    but then again, apa adanya saya sekarang ini adalah karena mereka juga 🙂

  2. Aduh jadi inget guru saya yang baru meninggal sakit serangan jantung katanya.
    Semoga amalnya diterima. Amalnya sebagai guru insya Allah pahalanya akan terus mengalir melalui murid-muridnya… Amiiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s