SUBHANALLAH – Rihlah Jiwa, Pikiran, dan Raga (Full Report>>absolutely a long post)

Jumat, 17 Agustus 2007. Sebuah hari yang ditunggu-tunggu masyarakat Indonesia, dari presiden sampai saya. Bukan apa-apa, tepat hari itu saya mendapatkan kesempatan untuk rihlah ke sebuah tempat di mana ketika berada di sana, Anda hanya akan melihat laut, laut, dan laut. Ya, pastinya saya ke laut, tepatnya di salah satu dari kepulauan seribu i.e. Pulau Bidadari.

Alhamdulillah, saat ingin rihlah malah dapat berkah. Sejak kecil, tempat impian saya a.k.a. yang akan membuat saya relax satu-satunya adalah laut. Dan pengalaman terakhir dengan laut adalah dengan salah satu dari kepulauan seribu, Pulau Ayer. Di pulau ini saya mendapat kesan sangat-sangat indah. Jadi, kebayang dong semangatnya dapat tiket ke pulau lainnya. Gratisan pula. Hahaha, lanjuuut.

Keberangkatan: Panik dan Panik

Ternyata, rihlah tidak selamanya berjalan lancar. Secara individu, saya memang sudah siap berangkat, bahkan sudah merangkul jaket MT pinjeman (punya siapa, yaaa? Hehe). Tapi saya lupa bahwa saya juga berangkat bersama keluarga, yang berarti ‘grusak-grusuk’ dan ‘panik’. Terbukti, baru berangkat dari Bogor jam10 padahal kapal dari Marina berangkat jam11.30. Waduh. Berangkat jam10 pun ada ceritanya juga, lagi. Jadi, kami berempat sudah siap jam9 dan sedang berjalan menuju mobil ketika adik saya (berikutnya akan ditulis Ardi) merengek (oke, enggak pantes sih pake bahasa ‘merengek’ melihat postur tubuhnya) melihat celana jinsnya tidak ada di tasnya. Berhubung dia nitip mama untuk memasukkan pakaian2 pilihannya ke tas, jadilah mama yang repot. Pada akhirnya, kami semua keliling rumah hanya untuk mencari celana jinsnya. Arrrgghhh….

Oke, akhirnya kita tinggalkan rumah tanpa celana jins Ardi karena bapak sudah mengomel-ngomel enggak berangkat2. Berangkatlah kami berempat, langsung menuju rumah nenek untuk menjemput beliau (ikut juga tuh nenek ke pulau). Tak terduga, di daerah Merdeka, bapak tiba-tiba bertanya, “Tiketnya udah dibawa?” Kami baru sadar, tiket tertinggal!!! Arrrrggghhh…. Pun baru tersadar bahwa meteran bensin udah mendekati E. Arrrggghhh… Pun belum ada uang tunai karena emang belum ngambil di ATM. Aaarrrggghh…. Rasa-rasanya pengen keluar mobil dan muntah saking eneqnya. Enggak tahu kenapa. Haa…

Singkat cerita, mobil berjalan cepat di tol Tanjung Priuk. Alhamdulillah masih bisa ketawa-ketawa sambil mengomentari segala hal berbarengan…. sebelum ada telepon masuk ke ponsel mama. Ternyata pembantu rumah tangga-ku (berikutnya akan ditulis Arum) menelepon dari telepon rumah. Entah mengapa, ada sedikit rasa tidak enak. Entah mengapa juga, begitu tahu itu dari Arum, aku langsung terpikirkan laptop di rumah. Benar saja, nada suara mama langsung tegang. “Apa?!” kata beliau. Kami pun langsung tegang dan suara musik langsung dikecilkan.

Ternyata, ponsel Arum hilang di rumah. Jadi, ponsel itu ditaruh di kamarnya (yang emang di luar) ketika dia sedang mandi. Aku kebayang, pastinya kamarnya terbuka. Tapi anehnya, pagar tergembok. Soo..? Langsung dech enggak enak, jadi pada parno. Aku, Ardi, dan bapak langsung menitipkan barang-barang. “Rum, kunci motor masukin kamar mama.” “Rum, laptop masukin tas trus masukin kamar mama.” “Rum, kamar mama kunci, ya.” “Rum, garasi dikunci. Pintu dapur dikunci. Pintu belakang dikunci. Pintu samping juga.”

WAH. Kebayang jadi Arum. Lagi panik kehilangan ponsel malah dititipin kayak gitu. Akhirnya, kami meminta dia untuk meminta tetangga menemani dia di rumah. Pun tentang ponselnya, dia mau mencoba ke polsek yang memang dekat dari rumah. Kami di mobil sich udah hopeless, tapi Arum keukeuh aja sih mau ngelapor. Ya sudah… Tapi ternyata, wajar saja dia memperjuangkan ponselnya itu begitu dia menyebutkan harganya. Siyok, harga ponsel saya saja hampir semahal itu. Ck, ck, ck..

<what a hectic beginning, really>

Di Kapal: Ada Seorang Cewek Norak Berjilbab

Pulau-pulau Seribu dicapai dengan kapal-kapal bermotor di pelabuhan Marina, Ancol. Kami tiba di Marina sedikit terlambat. Tapi cukup beruntung karena kapal pertama berangkat dengan sangat penuh orang. Enggak enaknya, mesti nunggu di pelabuhan cukup lama, sekitar setengah jam. Tapi tidak terasa karena yang terasa adalah angin semilir yang berasal dari laut di hadapan saya. Yak, saya sudah menghadap laut kembali.

Enaknya lagi, karena kami berangkat dengan kapal kedua, kapal itu pun serasa milik sendiri. Hehehe… Jadilah saya puas mengabadikan pemandangan2 laut yang SUBHANALLAH indahnya. Speechless, deh. Di kapal, saya satu-satunya yang tidak bisa diam. Karena kosong, saya grasak-grusuk ke sisi kanan-kiri kapal, dengan kamera di tangan. Sementara empat orang keluargaku lainnya duduk diam>>analisis pertama sih karena eneq kapalnya goyang (lho, kok kya pesawat nih jadinya) karena ombak, miring, dan kencang. Tapi alhamdulillah euy saya tidak terkena virus eneq. Malah saya pengen banget keluar ke dek kapal, tapi karena dilarang keras sama orang tua… apalah daya.

Pulau Bidadari I: Apa Sih?

Satu hal yang membuatku terkesan dengan pulau ini pada kali pertama datang adalah laut, laut, dan laut. Jadilah mataku tak pernah berhenti memandang laut dengan takjub saat tiba di pulau ini. Dan, kebiasaan dari saat di pulau Ayer dua tahun yang lalu, kami pun memilih cottage yang ada di atas laut. Pastilah aku yang paling mendukung. Sangat seru!! Buka jendela=laut. Buka pintu=laut. Keluar ke balkon pun=laut. Ombak terasa menghantam kayu-kayu di bawah kamar. Hmm, nikmatnya.

Selesai takjub akan kamar, kami pun berjalan menuju restaurant karena perut (terutama perut saya) sudah mengetok-ngetok minta setoran, hehe. Di sana saya melihat ada orang yang memakai baju pengantin putih. Wah, seru nih. Tapi belakangan saya tahu bahwa pulau ini sering menjadi objek foto pre-wedding. Jadi, saya pun sangat penasaran dengan pemandangan pulau ini. Tak sabar menunggu waktu untuk keliling pulau.

Kejutan tidak terlalu menyenangkan tersedia di restaurant. Kami dihadapkan dengan fakta bahwa makanan sudah habis (hiks, hiks) sehingga kami harus menunggu sekitar dua-puluh menit. Urgh. Tapi sabar… Di hadapan sudah tersedia pemandangan indah laut, aku pun mengajak Ardi untuk keliling sekitar restaurant. Tapi ternyata, saya ditolak mentah-mentah (cih). Dia bilang males, lapar. Akhirnya saya menyerah dan hanya berjalan sampai Gift Shop. Di sekeliling sudah tampak beberapa bule berjalan, dari mulai Eropa sampai Asia.

Sewaktu kembali ke restaurant, saya ikut keluargaku duduk di tempat makan yang dekat kolam ikan. Tak sengaja, saya menengok ke arah kanan, kolam ikan. Eh ternyata, ada anak kecil bertopi dengan ibunya di sampingnya. Dilihat-lihat, lucu juga tuh mereka. Ibunya nunjuk-nunjuk ikan di kolam dan anaknya teriak-teriak lucu dengan mata ke ikan. Nah, yang lucu, sewaktu anaknya memutar kepala, saya melihat bahwa mata anaknya cuma segaris dan hitam. Wah, lucu sekali. Masuk deh dia ke album saya.

Makan datang. Sangat mengganjal perut, walaupun karena ceritanya buffet kesiangan, kami pun mendapat menu-menu yang disediakan. Tapi sayang, tidak ada ikan bakar, hiks.. Karena sudah lapar, tidak sempat memesan lagi, langsung saja diembat, haha. Sehabis makan enaknya…? Tidur, pastinya. Sekalipun baru jam2, bingung juga ko terasa ngantuk ya? Tidurlah kami. Khusus untuk saya, tidak bisa tidur karena di luar terdengar suara ombak yang mengundang saya untuk menikmati pemandangan dari balkon. SUBHANALLAH, pemandangannya sangat indah. Sampai Ashar saya hanya bisa memandang laut tanpa jenuh.

Pulau Bidadari II: Sepeda, Benteng, dan Ping-pong

Saat menjelang sore, cukup panik juga saya karena tidak ada seorang pun yang niat untuk berjalan-jalan. Eh, tapi ternyata saya melupakan Ardi, yang memang sedang tidur di belakang bapak. Akhirnya, kami pun berjalan bersama. Hahaha, sudah lama enggak kayak begini. Ardi mengajak untuk menyewa sepeda. Saya pun menyetujui karena bisa berkeliling pulau.

Ternyata, sepeda yang digunakan adalah sepeda yang menggunakan gigi. Waduh, enggak ngerti gigi sepeda. Sudah pias duluan, tapi mas2nya bilang giginya enggak ngaruh. Ya sudah, percaya aja deh. Mencoba satu kali, benar-benar teringat masa kecil saat menaiki sepeda ke mana-mana. WAH, notalgia SD kitaa… Haha..

Oke, jadi keliling pulau Bidadari menggunakan sepeda. Karena semuanya pasir, cukup sulit tuh. Setidaknya bagi saya, berkali-kali ngepot (ngerti kan?Lupa nih bahasa baiknya) enggak jelas. Untung enggak jatuh. Saya dan Ardi sangat berhasil….. nyasar!! Argh, kebiasaan deh. Tapi dengan nyasar, kami malah menemukan sebuah mushalla di tengah2 pepohonan. Bangunannya cukup rapih, seperti cottage2-nya. Kagum juga, karena biasanya, bangunan mushalla cukup tidak terawat ketika bangunan lainnya terawat. Yang membuat saya lebih terpana adalah, ternyata yang duduk-duduk di mushalla adalah… orang-orang berwajah Asia. Hehehehe…

Kesan mengelilingi pulau ini adalah miris. Berdasarkan sumber2, saya mengetahui bahwa pulau ini dikembangkan oleh pemerintah. So, you know what I mean, right? Beberapa sisi tak terawat, dan ketika berada di bagian dalam seperti kebun raya Bogor tapi dalam versi yang seram karena hanya jalan petak dikelilingi pepohonan tinggi dan gelap. Di bagian luarnya pun tidak semua sisi pantainya terawat. Ada beberapa sisi yang masih ditanami pepohonan tak terawat. Tak heran di bagian belakang pulau tidak dipenuhi orang.

Salah satu yang membuat kami berkelana dengan sepeda adalah untuk mencari benteng atas dasar rasa penasaran yang sangat ketika membaca petunjuk ‘Benteng’. Tapi ternyata, begitu kami berhasil menemukan dengan susah payah (disertai dengan turunnya gigi sepeda saya menjadi gigi satu.. Argh, tidak enak), kami menemukan sebuah bangunan lingkaran yang setengah hancur di atasnya. Dan begitu menaiki tangga, kami hanya dihadapkan pada bangunan yang biasa. Argh, tidak istimewa (penonton kecewaaaa).

Tapi begitu kembali ke bagian luar pulau, saya pun kembali melihat laut dan rasa kecewa terobati. Kami pun duduk-duduk di pembatas laut, dekat dengan kios penjual es kepala muda (sayang sekali, kelapa sudah habis saat kami tiba). Lalu, kami melihat papan ping-pong yang kosong… dan nyangkutlah kami di sana sampai melebihi maghrib. Sekalian menghabiskan waktu sewa sepeda juga sih, karena ternyata mengelilingi pulau tak lebih dari empat-puluh-lima menit. Akhirnya, pukul stengah tujuh kami meninggalkan papan ping-pong dengan keringatan dan bola peot (hahaha, my made).

Malam: Turis, Turis, Turis

Karena tidak ingin kehabisan makanan, kami pun mendatangi restaurant cukup cepat, bahkan tidak sempat mandi setelah berkeliling naik sepeda (perut lebih terasa). Makan malam mulai jam7 sehingga kami pun duduk2 dulu di dekat pantai. Saya melihat ke arah laut dan langsung terkesima dengan pemandangan laut di malam hari, saat hanya terlihat lampu-lampu di seberang sana. Saya pun mengitari pantai dan menemukan sebuah dek yang terdapat tempat duduk kayu di atasnya. Di dek juga ada beberapa orang yang tengah memancing. Saya pun tertarik dan langsung mendekati dek dengan kamera di tangan.

Saya duduk tak jauh dari orang-orang yang tengah asyik memancing. Aneh, niat banget mancing gelap-gelap. Sambil memandangi lampu-lampu di seberang laut, saya mulai menyadari bahwa mereka berbicara bukan dengan bahasa Indonesia. Entahlah, mungkin bahasa mandari dilihat dari logatnya. Kurang yakin juga apakah memang turis dari Cina, karena banyak kan orang Indonesia yang bisa bahasa Mandarin.

Sedang asyik memandangi mereka, dek pun didatangi oleh seorang pria bule tinggi besar dengan anak sangat kecil. Hehehe, jelas sekali kontrasnya. Tapi jelas sih, ayah dan anak. Sang ayah sempat tersenyum pada saya sebelum duduk di kursi kayu sebelah saya. Saya mendengar anaknya berteriak gembira melihat laut. Wah, ada yang mirip saya ternyata.

Belakangan saya mulai menyadari bahwa tamu-tamu lainnya tak lain dan tak bukan adalah turis, beberapa dari Asia dan beberapa dari Eropa. Ternyata lagi, anak kecil yang saya lihat di pinggir kolam tadi adalah turis Jepang.

Pagi: Telur dan Teh

Setelah menghabiskan waktu sore mengelilingi pulau dengan sepeda, saya pun tertidur lelap. Bahkan suara deburan ombak di luar dan di bawah kamar pun tidak terasa lagi. Saya terbangun oleh suara yang tak terduga: TV. Jadi ceritanya (masih inget banget), saya sedang bermimpi berada di lantai4 kampus Anggrek dan merasa lapar. Langsung lah mendatangi kantin di lantai4. Tapi bentuk kantinnya beda sekali, lebih keren. Semacam kedai roti. Seingat saya, saya sedang membeli roti tawar keju (ada, ya?) ketika saya bertemu dengan seorang teman. Tapi belum mengetahui siapa teman itu dan belum bayar roti pula, saya langsung mendengar suara-suara tentang Haji. Seperti, “Mau nanya Ustadz, pertama kalau haji bawa kursi roda enggak? Kedua…” Langsung kepikiran, kursi roda? Teruus dech, lama banget mikir ke mana-mana karena emang mendengar banyak hal. Karena sudah pusing, saya membuka mata dan langsung melihat TV yang sedang menayangkan tanya jawab ustadz tentang haji. Aarrgghhh…. Maaf, tapi bikin pusing.

Sarapan sangat ditunggu karena saya lapar. Kami pun absen cepat, mengambil nasi goreng, telur, dan teh. Saya senang sekali kami duduk di dekat anak Jepang itu, yang makan dengan ayah dan ibunya. Sering2 dech CCP ke dia, yang ternyata makan sendiri dan nasi goreng di piringnya berantakan. Hihi, lucu banget sich.

Ada satu yang mau diceritain, satu yang bikin saya tertawa tak terkira di meja makan. Oke, ceritanya kami tengah makan nih, ya. Karena saya makan paling lama, saya pun masih makan ketika yang lain sudah selesai. Saya sempat melihat piring yang lain kosong, sementara piring bapak tersisa telur ceplok putih. Saat saya tengah mengunyah makanan, saya melihat mama mengambil telur di piring bapak dengan sendok-garpu dan memindahkannya ke piring beliau. Saya kira akan baik-baik saja, tapi detik berikutnya yang terjadi adalah…. pluk! Telur ceplok putih yang tadinya berada di tangan mama jatuh ke…. gelas teh, yang memang ada di hadapan piring mama. Aku langsung tersedak tapi tetap tertawa. HAHAHA… Saya masih tertawa saat teringat itu. Ampuun deh mamaku ini. Rencananya beliau mau nyolong telur ceplok di piring bapak saat bapak menghadap ke arah lain, tapi ternyata bapak menoleh saat telur berada di atas gelas teh dan mama reflek melepas sendok. Aaarrrggghhh….. Ampuun…

Siang: Keliling Pulau=Ga Penting

Setelah sarapan rencana kami adalah naik Banana Boat. Wuihiiiii, seruuuu pastinyaa… Seumur-umur belum pernah nih, karena dulu saya merasa tidak tertarik dengan permainan itu dan lebih tertarik dengan jet ski karena memang lebih terasa dekat dengan laut, bukannya diceburkan ke laut. Ada sedikit pengalaman dengan Banana Boat. Ceritnya, sewaktu di Ayer saya pernah menaiki semacam mercusuar/menara tinggi. Dari sana, saya bisa melihat banana boat dengan orang-orang di atasnya ditarik perahu. Dan tiba-tiba, saya melihat mereka terjatuh ke laut. Mungkin karena saya terkaget-kaget melihat mereka, saya tertawa tidak bisa berhenti di atas menara. Keluarga saya yang berada di bawah saja terheran-heran melihat saya. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, seru juga sih. Jadi pengen…

Sayangnya, yang bisa dan mau naik hanya saya dan Ardi. Karena kami tidak mau hanya sendiri, harus menahan diri dulu deh sementara… Gantinya, kami memilih menaiki perahu ke pulau-pulau di dekat pulau bidadari. Ada tiga pulau, dan dari jauh terlihat menarik. Saya senang karena bisa dekat dengan laut lagi.

Tapi sedikit mengecewakan begitu mendekat karena pulau tidak istimewa. Hanya bangunan bekas VOC saja yang dibom dan tidak dipugar. Kembali lagi teringat bahwa pulau-pulau ini dikembangkan pemerintah. Begitulah.

Begitu sampai di pulau kedua, saya sudah tidak berniat karena kok kelihatannya bangunan hancur2 semua yaa.. Belum lagi saat kami turun, tukang perahunya bilang dia mau ninggalin kami di sana dulu karena harus menjemput orang ke pulau yang sama dari bidadari. WAH, serempak kami siyok juga. Maksudnya, mau ditinggalin nih? Saking parnonya, kami sempat meminta nomer ponsel tukang perahu (canggiiih).

Akhirnya, terdamparlah kami di pulau Onrust. Pulau ini semacam museum karena dulu sempat jadi markas VOC. Banyak orang, kmungkinan nelayan, di sana. Pertama-tama cukup tertarik juga sih, melihat pernak-pernik di museum. Tapi ke sana2nya, begitu dibawa ke makam Belanda, udah enggak niat. Karena kami juga bareng turis Belanda, bukan berarti tertarik juga. Ngantuk malah. Akhirnya, saya dan Ardi meninggalkan guide tanpa ngasih tips. Ups, maaf… Habis seru banget tuh beliau ngejelasin bangunan-bangunan ke turis Belanda.

Ternyata tukang perahunya balik lagiii…. Hahahaha… Alhamdulillah. Tapi kami, terutama saya, sudah tidak berniat lagi turun ke pulau ketiga. Akhirnya kami hanya melewati saja tanpa mampir. Tapi tidak melewatkan apa2 juga sih karena bahkan lebih tidak menarik dari Onrust… Hmm…

Shalat Bersama Deburan Ombak

Sesampainya di kamar, kami langsung mengantri mandi air payau (tadinya takut gatal2, haha… Tapi ternyata tidak ada efek samping..) sambil sesekali CCP ke jendela kamar di sebelah tempat tidur yang langsung menyajikan pemandangan laut nan indah. SUBHANALLAH. Tapi sayang saya harus meninggalkan ini semua…

Ternyata, setelah melihat sunrise, kami menyadari bahwa ternyata kami salah kiblat. Alamak! Bukannya nanya dulu nich. Hukumnya gimana yaah? Waduh… Wa’allahualam bishowab.

Oke. Secara miringnya sangat miring, jadi enggak cukup di kamar karena sisinya sempet sekali. Jadilah kami memilih untuk shalat di balkon kamar, dengan angin laut dan ombak yang menderu. Di laut pun semua mensucikan asma-Mu. Tiada satu pun pengingkaran alam pada-Mu. Tiada satu pun pengingkaran hati setiap makhluk-Mu.

Penutup

Hari ini, tuntas sudah saya melaksanakan tiga hal yang membuat jiwa, pikiran, dan raga saya menjadi berbeda dari sebelumnya… Pertama, karena sudah rihlah dengan melihat laut yang menenangkan. Kedua, karena sudah menafakuri alam di setiap langkah di atas pasir putih, setiap jarak yang diambil sepeda, dan setiap pemandangan yang saya lihat di pulau. Ketiga, karena sudah menapak tilas perjuangan para pahlawan. Oke, enggak secara jelas pahlawan Indonesia, tapi jelas menapak tilas perjuangan para penjajah (LHO?). Intinya, kerasa suasana perang laah…:p

Jadi, ada satu yang bisa saya ambil yaitu saya merayakan hari ulang tahun negeri Indonesia dengan merasakan apa yang pahlawan kita rasakan. Sekadar mengingat-ingat, di pulau Onrust itu saya melihat pintu menuju ruang bawah tanah tempat orang-orang Belanda dulu menyelamatkan diri dari serangan Inggris (sekutu/allies). Kebayang aja, bagaimana suasana perang saat itu. Akhir dari cerita pulau itu adalah satu pulau dibom oleh sekutu. Ck, ck, ck… Tapi setelah itu dbangun kembali oleh Inggris..

>>>Lho, jadi bingung sendiri nih. Jadi ada perang di atas perang ya? Ini yang nulis malah bingung… Ketahuan banget ngantuknya dan enggak ngedengerin guide tadi.

Sepanjang perjalanan, yang sering saya nyanyikan dan yang teringat oleh saya adalah lagu-lagu nasional dan Semesta Bertasbih. Kalau Semesta Bertasbih sih enggak apa-apa, tapi tumben2an nih saya teringat lagu nasional. Dipikir-pikir, sampai ujung Jakarta, ternyata Indonesia kaya yah. Memang belum percaya kalau belum dilihat sendiri. Ini baru Jakarta, bagaimana yang jauh2, yaa…? SUBHANALLAH.

Kesimpulan

I love sea more, relaxing and comforting.

Advertisements

8 thoughts on “SUBHANALLAH – Rihlah Jiwa, Pikiran, dan Raga (Full Report>>absolutely a long post)

  1. emang susah deh anak jakarta yg jarang lihat laut 😛 😛 😛
    becanda ding.ditempatku juga sebenarnya suku kita dimasukkan kedalam suku laut karena tempat tinggal beberapa jarak meter aja dari laut dan keterikatan yang kuat dengan laut.sambil nyuci piring sambil ngeliat matahari terbenam,terbayang ga sihhhhhhh 😀 😀 😀
    lari lari ga make sandal dari rumah ke laut ,langsung nyebur dah,:D 😀 😀

  2. waduh…. panjang amot nih…
    puzing dah… emang klo yg lagsung ngerasin… enak dah bwt kisahnya…
    tak terasa… jari-jemari.. menulis cerita ….bgtu indah dan menawan…
    Met liburan dah…
    yg penting klo cerita, sholat dulu y….baru cerita makannya ..he2x…
    pizzz…
    ada yang membedakan sedikit nih.. ane jg pernah berangkat bareng Ardy tapi Ardy alumni 02 kelaut pula lagi.. tengah malam… tepanya milad ane ..yuhu…

  3. WAH Curang…
    enak sendirian
    pantesan buru2 minta ijin pamit mo rihlah kelaut
    Bagus…
    Rihlah hati yang satu ga kesampean
    Rihlah yang ini sampe eneg ditinggalin dipulau onde mande enaknyo jalan2
    to esqie : Hati2 klo kelaut malem2 ntar dipatil lele laut bikin meriang sakit hati

  4. Wow, mantap amat yak.. ;))
    Saya jg pernah ke pulau bidadari ama temen2 kuliah. enak yah tempatnya.. banyak pohonnya, tp sayang tempatnya tidak terlalu luas. kekeke..
    Dah ketemu ama biawak di situ? Btw, kesana lagi ada acara apaan?

    Best Regards,

    Your friend

  5. Ashree W. says:

    @ghoz: Lagi ada acara apa yah…. Rihlah aja sich, kbetulan dapet tiket gratisan,hehe…

    @motoriousz: wah,maaf jadi pengen yach..? hehehe

  6. hendry says:

    pulau bidadari brp jam dr jkt?
    dulu pernah sih wktu sma ke pulau pramuka(kecamatannya kepulauan seribu), kira2 perjalanan lautny 3 jam dr jkt…untung gak eneg tp bener wlaupun naik kapal motor nelayan tp seru bgt, ya lumayan dsana nginep 3 hari….
    dsana pantainya masih alami…..tp yg lebih alami skrg nih di papua barat….
    mau berkunjung………???

  7. Ashree W. says:

    wahhh……enak yah orang2 yg tinggal di sana… Bisa bosen ga yah ama pantai…??

    enaknyaaa…..

    @hendry: Ke Bidadari cuma 15menitan. Lama amat 3jam?? Arrghh… Saya kan bawa nenek dan ortu, bisa teler tuh d motorboat 3jam… hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s