Satu Detik yang Berharga

Mungkin benar sebuah peribahasa yang mengatakan bahwa waktu adalah uang, benar-benar sama berharganya. Ada sebuah contoh kasus nih, yang juga bisa dijadikan renungan. Ini saya dapat dalam sebuah perjalanan. Saya tengah mengendarai sebuah motor>>dan jika Anda tidak mengenal saya ketika membawa motor, I tell you: I’m a speed freak. Walaupun udah diberikan ultimatum dari keluarga untuk tidak mengebut, rasanya tidak enak saja kalau sedang ga mood tidak melampiaskannya pada jalan.

Nah, ketika berada di jalan inilah saya mendapatkan sebuah pelajaran. Karena emang saya sering ngebut dalam berbagai suasana, kesempatan, dan tempat, jadi sedikit memiliki reflek yang alhamdulillah bekerja dengan baik. Kasus ini bisa dibilang sebuah keteledoran saya. Saat itu tengah berada di Jalan Sudirman dekat dengan istana Bogor, tepat di depan RS Salak; pertigaan. Kenapa saya mendetilkan seperti ini, karena saya pernah mengalami hal yang sama dan di tempat yang sama tapi berada di posisi yang berbeda. Jadi, sepertinya pertigaan ini sedikit berbahaya juga.

Oke. Jadi ceritanya, aku tengah melaju dengan kecepatan skitar 80 km/jam. Berada di belakang sebuah mobil dari mulai jalan Jalak Harupat membelok ke Sudirman. Bagi Anda yang tidak mengetahui keadaan jalan Sudirman Bogor, saya beritahu bahwa jalan itu (begitu juga jalan Jalak Harupat) jalan terbesar dan termasuk jalan utama di Bogor sehingga kalau ngebut pun enak. Nah, saya membelok ke jalan Sudirman dengan kecepatan yang sepertinya memang lebih kencang, mendahului mobil di depan saya. Keadaan kosong. Tapi ketika mendekati pertigaan tersebut, ada mobil berwarna hijau (masih inget) yang keluar dari arah kiri menuju jalur yang sama dengan saya. Berhubung di tepi-tepi jalan itu banyak terdapat angkot-angkot yang ngetem, mobil itu pun membelok dengan berada di hampir tengah jalan a.k.a. di lajur yang sama dengan saya.

Dengan kecepatan yang memang cepat, memang cukup sulit untuk menghadapi suasana ini. Saya sempat panik, WAH, GAWAT. Enggak mungkin aja langsung ngerem mendadak. Dari arah sebaliknya pun cukup banyak mobil. Lalu, dengan modal nekat saya menghindar dengan mengambil celah di kanan (di depan mobil itu) dan mengencangkan gas kembali. WAH, lega tapi masih tegang juga.

Pertanyaannya adalah: apa yang akan terjadi jika tidak reflek membelokkan setir ke kanan? Saya mungkin menuliskan ending yang berbeda mengenai ini. Atau mungkin lebih buruk lagi, saya bisa saja tidak sedang menulis ini. Hanya sebagai perbandingan, kira-kira dua tahun yang lalu, saya pernah berada di tempat yang sama. Bedanya, saya bukan mengendarai motor melainkan berada di dalam mobil. Saat itu mobil saya tengah melambat karena keadaan yang sama (ada mobil (tepat di hadapan mobil saya) yang memotong jalan kami karena untuk membelokkan mobil ke jalur yang sama bisa sampai memotong jalur). Sedang menunggu, tiba-tiba ada sebuah motor di belakang mobil saya yang melaju cukup kencang dan mendahului mobil dari sebelah kiri (posisi saya duduk). Mungkin karena pengendara cukup terkejut karena ada mobil di hadapannya, motor itu mengerem mendadak dan jatuh. Saya melihat dan terekam jelas di benak saya. Saat itu saya berdiskusi dengan Bapak dan membuat pernyataan bahwa saya kurang menyukai motor.

Hahaha! Funny how I did almost the same the next few years…

Pelajaran yang saya dapat adalah bahwa dalam kasus saya itu, ada sebuah detik yang berharga yang mungkin harganya jaaauh melebihi uang: priceless. Detik itu adalah detik yang terjadi saat saya menyalip bagian kanan jalan. Kalau saja pada detik itu mobil hijau itu (salah) memacu gas atau saya kurang memacu gas, entah apa yang terjadi. Detik itu pula yang terjadi saat pengendara motor dua tahun yang lalu mengerem motornya. Mungkin akan terjadi tabrakan yang sedikit membuat saya trauma sampai sekarang.

Singkatnya, detik itu seharga dengan nyawa saya, atau bahkan Anda-Anda sekalian para pengguna jalan. Terlibat dalam sebuah titik konflik, satu kesalahan fatal saja bisa menyebabkan sebuah kecelakaan.

Saya hanya ingin membantu Anda mengingat, bahwa Pemilik Detik itu pun telah merencanakan rencana yang Anda tidak akan pernah tahu. Allah memiliki detik itu dan kalau Dia kehendaki, mungkin ada sebuah kesalahan kecil yang fatal yang akan terjadi pada saya dan Anda.

Jalan adalah sebuah awal dari bahaya. Memang menantang, tapi juga membahayakan. Untuk keselamatan kita semua, bukalah mata lebar-lebar dan pusatkan konsentrasi sepenuhnya pada jalan. Nyawa Anda lebih berharga dari kepuasan adrenalin. Seriously.

With love. Ashree.

Advertisements

2 thoughts on “Satu Detik yang Berharga

  1. Assalamu’alaikum
    Weits gaya dah nih bisa kendarain motor juga ya…..
    gaul dah… ngebut pula… PARAH… Hati-hatilah bu klo bawa motor. Saya juga sering liat orang ditabrak sama motor, ini lebih karena keteledoran motor lho bu. hehehehe sok menggurui nih ana. Ah ya sudahlah yang penting hati-hati tuh nyawa kita cuma 1 ga kayak kucing (hehehehe)
    Wassalamu’alaikum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s