TimNas dan Jakarta Malam Hari (Analisis Pertandingan dan Lagu Aneh Kutemukan di Jalan)

Kemarin adalah hari yang kutunggu-tunggu. Pertandingan Indonesia vs KOrea lah alasannya. Bukan apa-apa, sejak kemenangan melawan Bahrain, aku seakan melihat bahwa timNas adalah tim yang berbeda. Sebagai warga Indonesia, sedikit bangga juga nih. Tapi, mungkin seharusnya introspeksi keadaan juga ya, karena jika sudah berada di atas dengan kemampuan yang belum cukup sempurna dihadapkan dengan sebuah tim yang sudah cukup sempurna, kejatuhan pun terjadi.

Oke. Saat peluit dibunyikan tanda akhir pertandingan, aku hanya terduduk termangu: tak percaya. Kok bisa? Maksudku, praktis selama sembilan-puluh menit tidak ada pergerakan timNas yang menegangkan. Serius. Kok berbeda saat melawan Bahrain dan Arab ya? Saat melawan Arab pun, walaupun kalah, aku mengacungkan jempol pada mereka>>serius, attacking, dan on the line. Tapi semuanya seperti hilang kemarin malam.

Sebuah tanda tanya yang besar, timNas itu tim apa ya? Tim yang pandai belajar beradaptasi dengan keadaan tim lawan atau tim yang bukannya pandai beradaptasi dengan keadaan tim lawan tapi terlalu hanyut dalam sanjungan orang-orang Indonesia tanpa bersusah payah? Anda tahu, atau akan mengira jawabannya, saya kira. Tim ini adalah tim yang terdiri dari orang-orang Indonesia dan dipimpin oleh birokrasi Indonesia. Seharusnya, kalau sudah melihat pemimpinnya seperti itu, bisa melihat watak bawahannya.

Aku tidak menyadari sebelumnya, tapi jika memang sudah disadari pastinya aku mendo’akan untuk kesadaran timNas untuk bermain bukannya mendo’akan agar mereka menang. Tahu bedanya? Bedanya terletak dari usaha di lapangan; kalau mereka sadar akan keadaan lapangan, aku yakin mereka akan berusaha sebesar saat bersama Arab (ingat saja, Arab yang pernah dipecundangi Jerman 8-0 bisa ditahan oleh timNas. Seharusnya, melawan Korea yang menjadi juara tiga piala dunia lebih serius lagi). Bisa jadi pula mereka terlalu termakan keadaan di luar lapangan, yaitu keadaan tim Korea pada dua pertandingan sebelumnya lebih lemah. Tapi mereka lupa, di luar lapangan sangat berbeda dengan di dalam lapangan.

TimNas menyepelekan Korea, itu pasti, pada sebelum pertandingan. Buktinya, terlihat jelas permainan mereka saat menit-menit awal terlihat terkejut dengan pergerakan KOrea yang straight forward. Setelah melihat ini, aku bergumam dalam hati, ‘Yaah, ini bakalan kalah deh.’ Aku hanya melihat sebuah deja vu yang terjadi pada sebuah tim yang dikalahkan oleh BArcelona atau tim-tim yang kuat lainnya. See? I just saw that this team is nothing but a ****. (disensor ah, siapa tahu ada yang tersinggung, hehe. Maaf kata2nya, kalau udah kesel lupa semuanya)

Akhirnya, selama pertandingan, aku dan ukhti-ukhtiku (emangnya ikhwan aja yang nonton bareng?) berusaha menyemangati tim ini (oke, aku enggak. Mereka iya). Tapi, apalah daya ketika di lapangan mereka sudah dibekukan oleh Korea dan tak berkutik. Keberadaan mereka di gawang Korea sama sekali tidak mengancam, sebaliknya keberadaan Korea di gawang mereka benar-benar mengancam. Salut pada kiper Indonesia, siapapun Engkau yang bernomer 23, hehehe. Berkat dia, Indonesia tidak kebobolan lebih banyak lagi, seperti Bahrain atas Arab (eniwei, aku pernah liat tim Arab/Bahrain-abis sama2 sih klo di luar lapangan-di MT Haryono. Tee Hee).

Back to Topic. Ternyataaa, hariku terancam tidak indah. Dengan malas begitu, aku pun memutuskan untuk pulang ke Bogor. Udah jam setengah sembilan, memang, tapi enggak peduli tuh. Enggak tahu kenapa, udah enggak bisa mikir kalau kalah. Intinya adalah, mau ngambil ponsel yang ketinggalan di rumah buat acara penting hari ini.

Oke. Sedikit takut juga udah enggak ada bus, tapi ternyata masih ada, hehe. Di bus, seperti sudah diduga, notabene orang kerja dan bapak-bapak. Setelah mengambil posisi yang enak, aku pun langsung bingung mau ngapain. Tidur enggak enak, enggak tidur pun tak enak. Teringat aku membawa mp3 player yang udah sehat. Jadi deh muter-muterin kabel earphone, hehe-kebiasaan, sering nyangkut. Enggak tahu kenapa, pas denger nasyid langsung semangat aja gitu. Jadilah aku bangkit dan memutuskan untuk pindah tempat ke deket jendela. Rada nyesel juga sih, karena ternyata jarak tempat duduk dengan tempat duduk di depan tuh sempit. Hmm, sabar.

Duduk deket jendela ternyata membangkitkan inspirasi. Sementara bus masih belum bergerak dari bunderan Slipi, gedung JDC. Tapi di situ pula aku mulai menikmati suasana Jakarta pada malam hari. Wah, keren juga nih. Lampu2 jalan menyinari dengan cahaya emas remang-remang ke semua kendaraan yang melaju di jalanan Jakarta, termasuk bus Bogor ber-AC dingin dan berpenumpang sedikit ini. Wah asli, dari bus cahaya lampu terlihat indah. Walaupun memang biasa aja, tapi terlihat memberi kesan menyenangkan bagi saya yang tengah bingung dan bimbang. Entah mengapa, terasa hangat aja. Dua-tiga mobil bak terbuka dengan penumpang berbaju bola terlihat olehku (di luar tol, pastinya). Beberapa dari mereka masih melambaikan bendera merah-putih. Ternyata, semangat nasionalisme masih tersisa.

Sambil tersenyum memandang mereka, aku pun tak sengaja menyimak lirik-lirik nasyid yang tengah terputar tak sengaja di mp3. Hmm, judulnya enggak tahu, tapi familiar deh lagunya. Ternyata, begitu saya mendengar liriknya, mulai deh ketawa pelan sendiri di bus. Waah, untung lumayan kosong. Asli deh, liriknya tak terduga: ‘Jangan bimbang ragu membaca dataku, hapus bayang semu tentang usiaku, orang tuaku telah ridha memberi restu, mereka tak sabar lagi untuk punya mantu.’ Weits, udah denger yang terakhir aku pun penasaran dan langsung mengulang kembali lagunya. Hmm, menarik,unik. ‘Jagalah pandangan karena banyak ikhwan‘; ‘Majulah wahai mujahiddahku, hari ini aku ingin mengkhitbahmu. Katakan pada orangtuamu, jangan pernah tolak lamaranku.‘ Hahaha.

Sambil terus menikmati jalan tol, aku meneruskan mendengar lirik nasyid unik ini. Tak lama, saya menyadari mendengar kata-kata seperti PK Sejahtera… Hmm, WAH, siapa yang ngasih ini nasyid ya? Gawat nih kalau ampe keluarga dengar, disangka ikutan parpol lagi.

Oke, perjalanan berlanjut. Dalam benakku, aku mengira-ngira apa yang akan dikatakan orangtuaku karena aku pulang malam. Hahaha, entah mengapa memberontak adalah kebiasaanku sejak dulu. Ada sebuah perasaan yang melegakan begitu memberontak-melakukan tidak sesuai peraturan birokrat (yang berkuasa). Mungkin karena rasa penasaranku yang tinggi, sehingga begitu aku memberontak aku pun merasakan sendiri bagaimana rasanya. Penasaran sekali nih apa yang akan kudapat sesampai di rumah.

Lagu berikutnya adalah lagu P. Project, ‘Lagunya Gila Bola’. Saya inget banget nih, denger lagu ini waktu kelas 6SD, zamannya World Cup 1998. Katanya sih jadi piala dunia yang terbanyak konflik dll di dalamnya, plus lagunya yang booming (Ricky Martin)-lagu ini pelesetannya. LIriknya unik juga nih; ‘Kita Indonesia enggak ikut ke sana, jadi penetap piala dunia. Lebih menderita karena huru-hara, Liga Indonesia tidak berdaya. Rencananya Indonesia kan menuju pentas dunia, bagaimana itu bisa, liga saja tidak ada. Apa sepakbola miripan swasta, tak bermodal lagi dilikuidasi. Mending merjer saja dengan binaraga, agar atlet bola bisa perkasa. ‘ Waaah, cerminan zaman sekarang juga nih. Itu dia yang membuat unik, saya melihat sebuah fakta bahwa kerusakan (sepakbola) Indonesia dicampurkan dengan semangat piala dunia 1998 serta humoris. ‘Laris manis tanjung simpul, karcis habis Prancis makmur. Berprestasi dan berbisnis, dua sisi sangat manis.’ Naah, kalau ini menyindir Indonesia dan sepakbola Eropa. Salute!

Mungkin aje pemain kite, pergi ke sane ke pentas dunie. Setidaknye kita bise kirim dute, ketuanye aje. Duh, amit-amit..‘ Hahaha.. Puas tertawa di bus.

Advertisements

5 thoughts on “TimNas dan Jakarta Malam Hari (Analisis Pertandingan dan Lagu Aneh Kutemukan di Jalan)

  1. lebih terharu jika menonton langsung 😦

    ikut2an nih analisis pertandingan.

    Yg pasti krna saltum, jadi passing nya slallu ke merah (korea), pnonton pake merah, dikirain korea pndukung mereka, malah jadi semangat.

  2. Ashree W. says:

    Hahahaha…
    Setuju juga tnt kostum… Yg nonton d rumah (mksdnya saya) juga salah ngeliatin, malah ngeliatin Korea.. Haah, gimana sih.. Abis inget aja gitu prtandingan sblumny kan pake merah..

    what’s over is over..

  3. fauzur says:

    TIM INDONESIA, setidaknya buat saya mereka telah bermain dengan semangat, telah berusaha, setidaknya. Mereka menurut saya, telah over the limit, what they can do. Tetapi kalah, tetap kalah.

    Lagi di kantor tuh pas nonton, curi-curi nonton, soalnya juga lagi ada deadline tulisan , beberapa menit lagi. Ngak konsen juga tuh nulis. Lagi nulis saya doa aja, semoga indonesia mendapat yang terbaik.

    Meudah2an dapet diambil hikmahnya aja, tim INDONESIA dan para pendukungnya . SIp deh.

    Ada yang menarik, semangat nasionalisme yang belum pernah saya liat lagi, kini muncul kembali. Karena, si SEPAK BOLA.

    Bener2 bisa jadi bahasa persatuan MUNGKIN.

    dah deh.

  4. Ashree W. says:

    Sepakbola sudah diakui sebagai bahasa persatuan.
    Contohnya ya saya sendiri nih, yg seringkali meremehkan timNas kalau ada pertandingan… Tapi sekarang (mksdnya kmaren2), giat bget menebarkan nasionalisme. Orang2 aja bingung, apalagi saya..

    Keajaiban. Pun bisa mendamaikan dunia juga nih…

  5. hendry says:

    tp gak bisa dbilang juga klo Indonesia meremehkan Korea, yg pasti dah grogi duluan coz permainannya sama persis kaya Indonesia sebelum Piala Asia digelar yaitu kalah mental sebelum bertanding melihat nama besar Korea.
    liat aja passing2 gak jalan, gak ada peluang yg berarti, gak ada tusukan2 maut & gocekan yahud dr sayap…..ya dah bisa ditebak nontonnya di TV jg jd gak semangat, gak ada emosi seperti lawan Arab.
    tp walaupun bgitu memamg TIMNAS harus selalu didukung, salute buat suporter yg memadati Stadion GBK…huh coba lg d Jkt pasti nonton lgs tuh ke Senayan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s