(Benar-benar) Catatan Harianku

Malam, 4 Juli 2007

Malam libur yang indah, seharusnya kuisi dengan ritual malam yang menyenangkan (nonton dvd, bikin bihun kuah, online ampe pegel>>pola hidup yang tidak sehat, dilarang mengikuti). Tapi entah mengapa, malam ini aku malah tidak bisa berkonsentrasi dengan baik. Mungkin karena aku sedang menghadapi laptop sambil berbaring disertai dengan kepala yang emang rasa-rasanya udah ditumbuhi kawat-kawat di dalamnya (baca: pusing). Dari kepala, naik ke otak (ralat: posisinya sama ding ya). Jadilah sejenak aku tidak bisa terfokus; bahkan untuk melirik jam dinding. Yang kutahu aku harus masuk kamar dan sesampainya aku langsung roboh di atas tempat tidur.

Tapi masih tidak bisa menghilangkan kawat-kawat. Duh, bingung juga. Ditambah perut sedikit mual. Menyesaaaal deh makan ga teratur. Saat itu, tengah pusing dan tengah ingin muntah, sebisa mungkin ditahan agar tidak menjadi kebiasaan. Langsung teringat pesan dokter internisku yang kusayangi (alm.), tentang penyakit maag. Beliau yang pertama kali memvonis hal itu padaku, sebuah gebrakan baru juga berhubung sebelumnya aku sempat muntah2 kayak orang ngidam. Ternyata, jangan dimuntahkan, menurut beliau. Sekali dimuntahkan, perut akan terbiasa.

Tapi malam itu aku benar-benar tersiksa. Segala cara sudah dicoba, terapi pijat ala facial salah satu salon, yang beberapa kali berhasil menghilangkan pusing/migrain, hanya berhasil sejenak. Kayaknya ada apa-apa, nie. Untunglah, sebelum aku memikirkan kemungkinan2 yang lain, Allah sudah mengizinkanku untuk memasuki alam mimpi. Alhamdulillah, terhentilah siksa sugra itu.

Pagi, 5 Juli 2007

Kupikir di pagi hari akan terasa lebih baik… Ternyata tidak. Tepat saat ku membuka mata, langsung terasa tidak enak. Ternyata, begitu aku bangkit dari tempat tidur, belakang kepala terasa mencekam. Rasanya seperti habis dipukul kepalan tangan. Dan itu langsung berhubungan dengan ubun-ubun, yang pastinya membuat sebuah awal yang tidak menyenangkan untuk sebuah hari.

Akhirnya aku langsung ke kamar mandi, wudhu, salat subuh, dan langsung minum obat. Rasanya lumayan. Kemudian aku pun beranjak menuju halaman, ingin menikmati halaman hijau pada pagi hari. Kebetulan selama kuliah jarang banget maen2 d halaman pagi2, skaranglah saat yang tepat. Sedang menyusuri halaman menuju bagian depan, ternyata ada nenek yang sedang menyapu. Hmm, kemudian kita mengobrol tentang rencana mengundang teman2ku liburan d rumah. Ingin membagi pemandangan yang kulihat saat berada di rumah dengan teman2ku tercinta. Tapi entah bagaimana, saking jauhnya tempat itu.

Saat berjalan menuju pagar depan, terlihat olehku pemandangan gunung Salak yang luar biasa indah. Subhanallah. Di Jakarta, bagaimana bisa mendapati pemandangan seperti ini? Ditambah dengan dinginnya udara, serasa tengah berada di gunung, yang memang berjarak tak seberapa jauh (jauh sie, tapi kan lebih jauh kalau dari Jakarta).

Dengan perasaan yang mulai lumayan ketika melihat hijaunya pemandangan halaman, aku pun merencanakan untuk pergi berenang. Sendiri, agar bisa lebih mengapresiasikan perasaan di jalan. Rencananya berangkat pukul stengah delapan, biar ga terlalu siang. Tapi emang biasa ngaret, jadilah berangkat pukul stengah sembilan. Sampai kolam, sudah dipastikan, matahari udah sedikit condong. Siap2 item deh.

Banyak anak-anak kecil yang liburan, tapi kolam olimpiade tak tersentuh mereka, seperti biasa. Tee-hee, itulah enaknya. Setelah beberapa kali putaran, aku memerhatikan anak-anak kecil itu dari kejauhan. Mereka sedang berebutan naik perosotan (bahasa yang baiknya apa ya?). Masalahnya, aku memiliki pengalaman buruk dengan perosotan ini.

Jadi ceritanya, waktu kelas 3SMA klo ga salah, aku dan tiga teman cewekku pergi ke tempat yang sama. Bedanya kami pergi sedikit sore, sehingga orangnya enggak sepenuh saat aku pergi hari ini. Nah, di antara kami berempat, yang berada di kolam olimpiade cuma aku aja. Tiga lainnya tuh di kolam dangkal, yang ada perosotannya. Aku perhatikan mereka udah beberapa kali deh naik perosotan. Aku pura-pura enggak kenal mereka. Dari awal aku emang udah mencak-mencak enggak mau naik perosotan yang tingginya amit-amit. Satu kelemahan aku, walaupun bisa renang, tapi aku paling takut ama air yang masuk ke mata. Owwwhh…

Tapi entah kenapa, saat aku sedang berbaik hati mengunjungi mereka (kalau enggak salah mereka lagi main sama kura2 di atas kolam>>aduh), ga ada angin ga ada hujan, mereka bertiga langsung menggiring aku menaiki tangga perosotan itu. Aduuuh… Terasa kaki ini bergetar selangkah demi selangkah menaiki tangga. Itulah pertama kalinya aku menuruni perosotan f***ing high itu. Dan dengan suksesnya teriak sekeras-kerasnya selama turun. Kalau sedang dalam tekanan, lebih baik mengaplikasikan kegiatan lainnya, termasuk teriak ini. Berhasil sih, tapi kata temen2ku itu, teriakan aku kencengnya Subhanallah, satu area kolam langsung pada nengok. (dan aku percaya ama mereka, karena mereka masih berada di atas saat aku turun, yang pastinya melihat satu area kolam. Dan aku pun ngerasa teriak kenceng banget.)

Oke. I won’t return to that day.

Di situlah aku, melihat anak-anak kecil yang tanpa takut menuruni tangga itu. Jadi bertanya-tanya, aku tinggi tapi kok takut ketinggian ya? Hmm…

Tapi, ternyata ada kejadian lagi saat aku masuk ke kolam renang untuk kedua kalinya. Seperti yang telah kutulis, aku juga takut air masuk ke mata. Jadi, kalau berenang enggak pake kacamata a.k.a. enggak bisa berenang. Alhamdulillah hari ini dapet deh beberapa puter dengan kacamata. Tapi suatu saat, aku sedang duduk di tangga kolam sambil melepas kacamata. Anehnya, aku tuh langsung siap2 meluncur dan berenanglah aku tanpa kacamata. Aaaaaaahhhh…. Damn! Nah, kolam yang tengah aku susuri itu sedalam dua stengah meter, yang ga mungkin aku berhenti tengah jalan. Jadilah aku langsung bergerak dengan sngat cepat. Tapi, emang enggak bisa lihat, jadi gerakan aku enggak lurus. Dalam otak emang lurus, tp trnyata sebenarnya enggak lurus lho. Malah jadi aneh. Di tengah jalan, trnyata pola gerak aku tuh tiba2 belok kiri sharp. Jadi pas aku mencoba membuka mata, aku menghadapi dinding yang tadinya d sebelah kiriku, bukannya yang di depanku (yang seharusnya kuhadapi dengan gerakan normal). Asli, gerakanku kayak cacing kedinginan (brhubung di air>>masa kpanasan), panik banget. Dalam hati berdoa, safety guard ga usah dateng dong, baek2 aja kok.. Untungnya enggak. Aduh, malu.

Tapi asli deh, satu stengah jam full renang, melepas smua kpenatan kuliah..

Siang, 7 Juli 2007

Pulang berenang, aku menghadapi adek yang rewel banget. Akhirnya aku bawa aja lagi motor entah kemana, biar dia tambah rewel dan enggak bisa ke mana2. Lagipula, lagi pengen speeding aja skalian melepaskan kepenatan. Kemudian, kujelajahi Bogor yang indah. Beberapa kali sukses meracaukan pengemudi mobil. Piss Mas, Mbak, Pak, Bu. Plus, waktu aku mau isi bensin. Makasih buat adeku, yg udah ngisiin bensin pertamax buat motor shingga mesti jauuuh banget bwt mencapai pom bensin pertamax (lagi giling banget sie pom bensin yang deket, bagus2 enggak ada pertamax). Tapi meskipun jauh, sepanjang jalan menuju Cifor itu panjang dan jarang mobil. Jadi tau kan artinyaa: bisa ngegas kenceeng. Sip, mantap lah.

Tapii, sebelum bisa ngebut, ternyata terhenti oleh polisi. Weits, razia euy! Teringat kata2 saudaraku tentang polisi yang rada sentimen ama pengendara cewek. Ternyata, bapak polisi cuma minta sim plus stnk, trus ngebolehin lagi jalan. Cihuii.. Untungnya ketangkep razia bukan pas abis ngebut..

Rencananya adalah ke Bank SM-nabung titipan, GRApari-bayar tagihan, Ekalos (buat yang enggak tahu, ini mall paling nyaman buat aku di Bogor)-beli ada-deh, Alisha-beli kerudung, trus ngeprint CV bwt ngelamar d almamater. Rasanya enak banget menikmati Bogor lagi dari motor, kayak terjun langsung ke lapangan. Beda aja kalau dari mobil, seperti terkurung dalam sebuah ruangan ketika menikmati pemandangan.

Tapi ada enggak enaknya juga trnyata. Kalau ada jalan yang rusak, kenanya mantep banget deh! Kalau mobil kan masih rada enakan tuh. Jadi, mesti pinter2 milih bagian jalan. Apalagi pas lagi ngebut2nya, trus d depan jalan rusak. Weiks, untungnya enggak mental. Tapi ini bukan mental, tapi perbaikan mental (kebaca kan bedanya). Jadi ceritanya, aku lagi menyusuri jalan Ceremai (kalau yang belum tau, ini jalan tempatnya cafe-cafe plus makanan paling enak di Bogor, Pia Apple-Pie), yang emang jalannya rusak. Tapi saat aku melintas, jalan itu tengah kosong, untungnya. Kemudian suatu saat, aku tengah melihat ke bawah, ke sepatu. Lagi mikir, nie sepatu enggak pantes banget deh, naek motor pake sepatu hak tinggi. Maklum deh, mau ngelamar. Tapi tetep aja gitu, kalau nyetirnya rada feminin sih enggak apa-apa.

TERNYATA, lagi mikir gitu tuh aku enggak lihat ke depan. Alhasil…. Ketika aku sadar, aku sudah nabrak (mungkin kata yang paling tepat tuh: nyungsep ke) pinggiran jalan yang terdiri dari batu bata tinggi. Aduh, kebayang kan bunyi bodi kena ke batu bata. Keras banget. Mana jalanan lagi sepi, jadi orang sekeliling pada ngeliatin. Tapi ngeliatin aja, karena emang keliatan aku enggak apa2. Ada sie satpam kafe Liefde, yang emang aku nabrak di depan itu (mirip protecom). Untungnya lagi sepi. Suara beliau yang pertama aku dengar saat nabrak, ‘Kenapa nih!’ Tapi beliau enggak ngedatengin aku, untungnya. Emang aku enggak knapa2, shock aja. Aku terus istigfar sambil memposisikan motor ke jalur yang benar.

Aku kasih background yang lebih jelas, deh. Nie jalan perumahan, lagi sepi2nya. Yang aku tabrak itu juga bagian dari lapangan. Hmm, trus klo dpikir2 lagi….. B**o banget ya? Namanya nabrak tuh, antara ada mobil/motor/orang di depan atau di belakangnya, KAN? Nah ini, ENGGAK ada sama sekali baik mobil/motor/orang! Yang ada cuma pikiran. Atau bisa itu dimasukkan klasifikasi? Ah, whatever. Yang penting, begitu aku sadar kecerobohanku, aku langsung kabur. Tapi belakangan aku tahu, trnyata bodi motor patah! Ouch!

Ada satu kesadarn yang pasti telah kusadari selama perjalanan ini. Ternyata, kalau cewek naik motor, ada beberapa keribetan yang pastinya enggak akan terjadi kalau cowok yang bawa. Jadi ceritanya, aku lagi ke GRApari. Nie sekelumitnya:

  1. parkir motor
  2. matiin mesin
  3. menghela nafas
  4. melepas kunci
  5. melepas helm
  6. menggantung helm d spion
  7. melingkarkan kunci (karena gantungan kuncinya tali)
  8. berdiri
  9. menghadap ke kunci bagasi (dan tersadar bahwa kunci ada d leher)
  10. melepas kunci dari leher
  11. membuka bagasi
  12. membuka masker
  13. menaruh masker d bagasi
  14. melepas tas
  15. menaruh tas d atas tangki bensin
  16. melepas jaket
  17. melipat jaket, mengurungkan niat untuk menaruh jaket d bagasi
  18. menyampirkan tas d bahu dan membawa jaket d lengan
  19. menutup bagasi
  20. menarik kunci
  21. melingkarkan kunci di leher
  22. memasuki gedung

Akhirnyaa…. Selama itu tuh, aku melihat satpam d dalam gedung GRApari tuh udah ngeliatin. Biasanya dia kan ngebukain pintu kan, jadi pas aku udah jalan menuju gedung beliau uda jauh dari pintu. Ck, ck, ck.

Ada lagi, setelah keluar dari gedung:

  1. balik ke motor
  2. melepaskan kunci dari leher
  3. duduk
  4. menaruh tas d bawah
  5. menancapkan kunci
  6. (menyadari kalau masker ada d bagasi) melepaskan kunci
  7. berdiri
  8. menghadap k kunci bagasi
  9. membuka bagasi
  10. mengambil masker (yang terlihat aneh banget d bagasi yang kosong)
  11. menutup bagasi
  12. membuka bagasi
  13. menarik kunci
  14. duduk
  15. menancapkan kunci
  16. memutar kunci
  17. memakai masker
  18. menstarter motor
  19. merapikan jilbab dari helm
  20. memakai helm
  21. memundurkan motor (sedikit terbawa petugas parkir yang juga menarik motor)
  22. mencari-cari 500an
  23. memberikan 500an pada ptugas parkir
  24. kabur

Alhamdulillah. Selesai juga. Kasihan petugas parkirnya, aku lihat dia udah megangin bagian belakang motorku (mau dtarik) tapi aku masih ribet ngambil masker di bagasi. Hihi. Afwan jiddan.

Sore, 7 Juli 2007

Emang Allah Mahaadil. Setelah melewati hari yang penuh dengan keanehan, kegondokan, kepenatan, dsb, here i am sitting dengan ditemani serabi… Hihihi… Makasih nenekku yang baik… Mau?

Advertisements

2 thoughts on “(Benar-benar) Catatan Harianku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s