Menapaki Kebenaran

Ya ampun. Setelah otak beristirahat sejenak saat ketiduran baca data tentang Munir, aku langsung dihadapkan dengan acara Metro Realitas: Penipuan Investasi. Kok ya semuanya sama-sama menudingkan padaku yang berada di negara yang salah. Bisa-bisanya aku dihadapkan pada dua fakta yang sama dalam satu hari yang sama, dalam otak yang masih sama lemasnya. Pantes aja sekarang sedikit enggak tanggep dengan keadaan sekitar.

Pertama, tentang Munir. Subhanallah, ternyata almarhum adalah aktivis yang tiada henti berjuang menegakkan keadilan HAM dan demokrasi. Kenapa aku bisa-bisanya tidak memperhatikan beliau saat masih hidup. Dan ternyata, penyelusuran data yang kutemukan itu sudah mengarah kepada pihak-pihak yang berwenang dan berkepentingan di negara ini. Tidak bisa mengatakan lebih lanjut, masih rahasia perusahaan, tuh. Tapi intinya, orang awam seperti aku sangat terguncang membaca data-data. Seakan dibukakan mata hati yang paling dalam skalipun: bahwa INILAH keadaan Indonesia yang sebenarnya. INILAH keadaan Indonesia, negara yang seharusnya menjadi negara kebanggaan, negara tercinta kami para generasi muda. Apakah yang ingin dibanggakan darinya? Mereka telah mengotori, menghancurkan bangsaku tanpa bersusah payah membuat kami bangga padanya terlebih dahulu.

Sehingga kebenaran menjadi sesuatu mahal di dunia ini. Munir Said Thalib membuktikan sesuatu: dia mengetahui kebenaran dan dia INGIN menegakkan kebenaran. Orang-orang itu tidak mengetahui kebenaran dan mereka INGIN menegakkan KETIDAKBENARAN. Sekarang siapakah yang salah? Siapakah yang salah ketika kita dihadapkan pada negara yang sudah kehilangan pejuangnya yang setia itu? Sudahkah kita malu karena belum memberikan sesuatu yang berharga pada negara seperti yang telah almarhum berikan?

Sebentar, mari mulai menapaki fakta. Seperti berjihad, pejuang HAM di negara ini memiliki resiko hidup yang tinggi. Bahkan lebih tinggi dari penderita penyakit kronis. Hidupnya untuk menegakkan keadilan, bagi umat. Tapi musuhnya subhanallah banyaknya. Allahuakbar. Birokrat memiliki banyak kroni, banyak staf, dan pada dasarnya akan selalu menang karena juga didukung oleh birokrat negeri lainnya. Karenanya, nyawa seorang pejuang HAM sungguh sedang berada dalam bahaya.

Kematian almarhum Munir bukanlah yang pertama sebagai kematian pejuang HAM. Tapi dengan kematiannya, aku semakin sadar bahwa sebenarnya negara benar-benar tidak bisa melindungi warga negaranya sendiri. Di mana nilai-nilai keaslian demokrasi, ketika orang-orang yang membangkang birokrasi dibantai? Inikah demokrasi ketika kita harus berhati-hati dalam berkata dan bertindak menyinggung birokrasi jika tidak ingin maut menjelang? Mana nilai demokrasi pancasila jika kita berada dalam kungkungan rasa takut?

Malu bertanya, sesat di jalan. Bagaimana jika aku tidak malu bertanya tapi tidak ada yang bisa memuaskan pertanyaanku? Inilah saat di mana aku tengah lelah bertanya pada dunia, pada angin yang berhembus, pada udara Bogor yang segar, pada teriknya panas matahari, pada pemandangan hijau lapangan yang terhampar saat ku tengah menulis ini. Semua pun sama, pasrah pada keadaan. Hanya ada dua pilihan: hidup dengan tidak mencampuri urusan birokrasi atau mati dengan mencampuri urusan birokrasi.

Asli deh, capek banget baca data-data tentang keadaan negara ini yang sebenarnya. Satu gambaran aja, ternyata birokrat dipenuhi orang-orang yang tidak berpendirian, yang lalai satu sama lain, dan yang tidak bisa dipercaya. Sudah benar sekali aku memutuskan untuk tidak pernah akan memilih mereka di pemilu atau apapun.

Ketika sudah tidak ada lagi yang dipercaya, aku yakin inilah saatnya untuk kembali menambatkan hati dan mengukuhkan niatku pada-Nya. Sesungguhnya Dia tahu sekali mengapa diciptakannya keadaan bangsa ini. Mungkin agar kita bercermin diri, mungkin merupakan sebuah ujian untuk menguji keimanan kita padanya. Mungkin, mungkin, mungkin, dan mungkin lainnya hanya agar aku merasa yakin bahwa keadaan negara ini bisa menjadi lebih baik…. Sekalipun dalam hati terdalam ada sebuah kepesimisan yang luar biasa tinggi.

Udah kepanjangan jadi males bahas tentang penipuan investasi. Intinya lagi, kacau deh suasananya. Menjelaskan sesuatu bahwa betapa susahnya menapaki kebenaran. Sangat benar sekali bahwa manusia dikatakan sebagai makhluk yang tidak sempurna, masih banyak melakukan kesalahan. Karenanya salah jika menggantungkan diri pada manusia (human-oriented), tapi lebih salah lagi jika menggantungkan diri pada keadaan (circumstance-oriented). Mungkin jika menggantungkan diri pada-Nya (god-oriented) akan jauuh lebih baik, karena sesungguhnya Dia ingin hamba-Nya menggantungkan diri pada-Nya. Jadi, bener-bener enggak bagus banget deh kalau ampe money-oriented. Our life’s not just about money. Though it’s important, but it’s not the most important at all.

Advertisements

5 thoughts on “Menapaki Kebenaran

  1. siu says:

    waduh, i just knew ashree is a good writer.
    anyway. i fed up too with the country :INILAH keadaan Indonesia, negara yang seharusnya menjadi negara kebanggaan, negara tercinta kami para generasi muda. Apakah yang ingin dibanggakan darinya? Mereka telah mengotori, menghancurkan bangsaku tanpa bersusah payah membuat kami bangga padanya terlebih dahulu.

    oia, munir ya.. ya, seperti yang saya katakan kemarin, bahwa di mata orang awam, kematian Munir memang misterius. People have no idea about the murderer or case behind it. But for journalist or politicians, it is a complicated political problem. many things hidden behind. just like every single thing you read on ***p*.

    sebenernya saya post di sini juga ga ngaruh c. no additional info. maap2

    keep writing ashree 🙂

    i know who killed Munir

  2. Ashree W. says:

    Aiiiiiih…… ternyata stelah melewati rawa-rawa pencarian data tentang beliau, akhrinya selesaaaaaiiiiiiiiii….. one night stand: satu malam penuh tuh [karena ada satu kesalahan tentang pngertian waktu pengumpulan sich].

    Apparently, kasusnya masih misterius. Pun argumen aku tidak bisa digunakan karena hanya berdasarkan brief analisis yg mendalam dan estimate yang ckup tidak bisa dpertanggung jawabkan… [hey, i’m not in a faculty of law!]

    still, tapaki kebenaran yang kasat mata. Wa’allahualam bishowab…

  3. al falah Rahman says:

    assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Jangan MENYERAH. Sayang , kalo mnyerah terhadap keaadaan, apalagi terhadap INDONESIA. MUNIr, hanyalah sebagian kecil. KITA sebagian lagi. MUNIR perintis. Kita perintis, cucu Kita meNIKMATIntis.
    Fakta ada, bukti pun ada. Tetapi di mata hukum kita itu semua belum kuat. itu aja komentar saya.

    TERUS BERJUANG.
    INDONESIA hanya gerhana…. bentar lagi TERANG!

  4. Ashree W. says:

    Allahu Akbar!!

    Rasanya hati ini tergetar waktu membaca tulisan ini (sya yg bwt yah, ko enggak ngerasa) jika dkompilasikan dengan keadaan sekarang, saar Pollycarpus sudah diadili..

    Akankah keadilan yang menyajikan kebenaran terungkap?

    Nantikan episode slanjutnya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s