Aku Kalap

Hmm… Mau cerita, tadi aku merasa seperti ada emosi yang meluap-luap, getaran keras yang terjadi tiba-tiba di dalam relung hati. Jadi, ketika aku berada di angkot [Bogor, pastinya] menuju Merdeka. Nah, di jalan tuh tiba-tiba supir angkot enggak sengaja nabrak orang di motor. Supir uda tua, kasihan banget deh. Orang yang ditabrak tuh gede banget, motornya semacem thunder/tiger yang gede2 deh [enggak merhatiin]. Ada beberapa detik momen saling tatap tuh antar supir dan orang di motor>>supir tuh udah bilang maaf berkali-kali tapi orang di motor tetep aja melolot gila-gilaan. Dari tempatku duduk [paling pojok bagian kanan], aku bisa melihat kilatan-kilatan amarah di matanya. Aku pun menggumamkan kata-kata untuk menenangkan orang itu, lupa juga menggumamkan apa>>pernah ada telepati antar apa yang kutatap tajam dengan kugumamkan; masalahnya sama pula, dan orangnya Alhamdulillah bisa tenang.

Tapi ini enggak. Ya Allah, sekeras apa Engkau memberikannya sebuah hati? Hmm, kejadiannya cepat sekali dan mengagetkan: orang itu menendang bagian depan angkot! Mantap kali! Aku benar-benar mendapat ide untuk menendang bagian depan mobil yang menabrakku dari belakang. [FYI: menabrak dari belakang SELALU AKAN salah, tidak peduli bagaimana pun keadaannya; sekali pun orang yang di depan yang salah.]

Back to topic… Orang-orang di angkot, termasuk aku, jadi kaget dong. Pastinya. Dua orang di depanku langsung membicarakannya. Aku hanya bisa berdzikir. Masalahnya lagi tuh, jalanan lagi padat merayap sehingga motor itu masih enggak jauh-jauh banget jalannya. Kemudian, aku melihat orang itu berhenti dan memeriksa motornya. Aku lihat dengan mata kepala sendiri [dan aku tahu aku benar karena aku tahu banget motor] bahwa motor itu sama sekali enggak rusak atau apa. Knalpotnya juga. Asli!

Angkot udah rada ke depan, kukira masalah sudah selesai. Ternyata belum. Guess what? Orang itu masih ngikutin angkot. Parah banget lagi ngikutinnya. Saking padat-merayap-nya jalan, orang itu bisa meraih badan angkot dengan mudah sehingga kembali terdengar suara pukulan [kali ini dari belakang bagian kiri]. Penumpang di dalam udah sedikit panik, aku terus menggumamkan dzikir. Jujur nich, guncangan kayak begini udah bikin jantung aku berdebar-debar kencang.. Allahuakbar. Aku enggak suka banget.

Akhirnya, orang itu berhasil berpindah ke sisi kanan angkot [yang juga berada di sisiku] dan mempercepat jalan sampai sejajar dengan supir>>sambil kembali memukuli badan angkot. Yang aku dengar, orang itu ngomong enggak penting banget deh pokoknya. Kayak gini nich: [maaf, percakapan sedikit diedit karena lupa]
>>orang di motor: “Apa-apaan tuh? Enggak bisa nyetir ya?”
>>supir angkot: “Ya ampun Pak, kan saya udah minta maaf.”
>>orang di motor: “Kapaan?” (nada suaranya udah pelan sedikit; uda ngerasa salah kali yaa)
>>supir angkot: “Tadi. Saya enggak sengaja, kalau sengaja tuh baru salah.”

Kemudian, ketika orang di motor masih terus memukuli badan angkot, barulah otakku mulai mendidih. Pasalnya itu karena aku enggak tahan banget lihat orang yang terus mengungkit masalah padahal kata maaf sudah terucapkan. Emang, maaf aja enggak cukup. Tapi emang mau diapain lagi sih? Secara itu motor enggak apa-apa gitu! Mau nuntut supir angkot? Itu yang enggak aku mau untuk terjadi… Akhirnya, dengan emosi yang telah menyebar dalam darah dan sampai ke tangan kanan, aku langsung membuka kaca mobil. Satu detik aku sadar; menggumam, ‘what were i doing?’ Tapi aku juga sadar bahwa kaca udah dibuka, orang-orang di angkot juga udah ngeliatin [karena aku membuka kaca dengan keras dan sedikit kebanting]. Akhirnya, ketika motor itu sedikit lebih mendekat dengan masih sambil memukul-mukul badan angkot [gila kali ya, tuh orang], aku teriak>>lengkap dengan menyembulkan kepala dari jendela. Kurang-lebih aku ngomong kayak gini, “Emang apanya yang rusak sih, Bang?! Kayaknya enggak ada yang rusak!” (p.s.: kata-katanya emang enggak keras, kayaknya, yaa? Kurang tegas niee..)

Ketika aku teriak, asli, orang-orang di luar angkot pada ngeliatin. Untungnya orang-orang di dalam juga mendukung, tapi suara mereka enggak sekeras aku. Ya Allah, Ya Rabbi… Mungkin nie, bagi sebagian orang, apa yang aku lakukan itu biasa aja. Tapi, aku bener-bener enggak biasa kayak gitu. Biasanya kalau ada konflik di sekitar aku, aku hanya akan melotot dan mendumel, itu pun juga akhirnya acuh tak acuh: hanya menyalahkan keadaan. Titik. Enggak pernah ngeluarin kepala terus teriak di tengah jalan. Serius, abis itu aku langsung menutup kaca [kembali dengan kebanting] terus dzikir lagi. Ya Allah, aku udah meluapkan emosi, mengikuti hawa nafsu musuh-Mu…’Audzu billahi min asy-syaithaani rrajiim..

Ngomong-ngomong tentang orang yang di motor, pas aku teriak, raut wajahnya sedikit kaget, lho. Mungkin kaget juga ya lagi marah-marah tiba-tiba aku teriak begitu. Hasilnya, dia jadi lembek dan semua selesai. Di pertigaan, kami belok kanan sementara dia lurus… Alhamdulillah. Akhirnya supir angkot itu enggak kena masalah lagi>>sebelumnya, dia juga dapet musibah SIMnya disita polisi hanya karena AKU naik. Ooooh, bodoh skali yaa? Kok bisa sih aku enggak sadar begitu… Tega banget. Makanya, aku enggak mau supir itu kena masalah lagi. Alhamdulillah, Allah masih bersamanya…

Advertisements

4 thoughts on “Aku Kalap

  1. hendry says:

    ass.
    menurut gw sih yg naek motor tuh malu diteriakin sm cewe,lagian jg motorny gpp kan?!?!?!?!
    apalagi itu di jalanan & dah jauh dr TKp, jd klo ada orang laen yg liat, org yg naek motor disangka knapa gitu koq bisa2nya diteriakin sm cewe….kenceng lage teriaknya…..hiks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s