Aku yang memandang dari dalam lubuk hati

237px-dcp7323-edirne-eski_camii_allah.jpgKetika melihat sekitar, melihat apa yang telah dititipkan-Nya padaku, betapa bersia-sia merupakan sikap yang hina. Bagaimana aku bisa tidak bersyukur selama ini atas apa yang telah diberikan-Nya? Tidak ada yang memiliki seorang ibu sedahsyat yang kumiliki, tidak ada yang memiliki rumah senyaman dan seindah yang kumiliki, tidak ada yang memiliki teman-teman yang membuatku melupakan segala masalah seperti yang kumiliki, tidak ada yang memiliki imaji setinggi yang kumiliki, dan tidak ada pula yang memiliki jalan pikiran seunik yang kumiliki. Subhanallah, dan itu semua ada padaku tanpa kusyukuri… Taubatku pada-Mu, ya Allah.

Inginku selalu berada di jalan-Mu, tapi apa daya diri ketika daya tarik dunia lebih besar. Terkadang ingatanku atas-Mu memudar, terkadang kuterlampau jauh ke dalam dunia keborosan, glamour, tanpa mengingat-Mu sedetik pun. Mungkin saat Engkau mencoba menolongku, aku pun berpaling, berpura-pura tidak merasakan-Mu…

Betapa munafiknya. Aku tahu sekali Engkau tetap berada bersamaku, ya Allah. Engkau menyertaiku, tanpa kusadari. Menemaniku setiap saat, hanya kemunafikan yang menutup perasaanku pada-Mu. Mungkinkah Engkau menghapus kemunafikan itu? Mungkinkah Engkau berkenan membuatku teringat akan-Mu dan membingkai setiap waktu bersama-Mu?

Ketika aku sendiri secara fisik, biarkanku mengingat-Mu berada bersamaku. Aku tak bisa memungkiri, Engkau sangat mencintai hamba-Mu ini. Ketika kumenitikkan air mata atau menangis dalam gelap, sendirian, aku tahu Engkau pulalah yang menghapus air mataku, menenangkanku, dan meyakinkanku bahwa segalanya akan baik-baik saja. Dan memang itulah yang terjadi, segalanya akan baik-baik saja ketika aku melangkah bersama-Mu menyambut esok hari.

Karunia terbesar dari-Mu dalam hidupku adalah ketika Engkau mengizinkan Islam menjadi agamaku. Terima kasih sebesar-besarnya kuhaturkan pada-Mu, atas berkenannya Engkau agar diriku mengenal Islam, menyelami, dan menghayatinya.

Akhirnya, Engkau mengirimkan cinta-Mu melalui seorang ibu padaku, mengirimkan kehangatan dan kenyaman melalui teman-teman di sekelilingku, mengirimkan pengertian mengenai kedalaman Islam melalui teman-teman baruku. Apa yang telah Engkau lakukan, Engkau kenalkan padaku tak lebih hanyalah sebuah pelajaran mengenai kehidupan, yang di dalamnya penuh dengan lika-liku yang sama menariknya. Terkadang Engkau langsung memberikan petunjuk-Mu, terkadang Engkau ingin aku mengambil sebuah pelajaran dalam hidup dengan memberikanku sebuah bencana batin yang harus kulawan dengan kekuatan keyakinanku pada-Mu.

Apapun itu, ya Allah, Engkau membiarkanku mengerti akan apa arti sebuah perjalanan hidup. Perjalanan meniti jalan-Mu. Jalan yang harus kutempuh agar aku selalu bernafaskan Islam, mengucap dzikir tanpa henti pada-Mu, serta belajar mengontrol pikiran dan imajiku yang terlampau tinggi.

Engkau milikku yang Mahatinggi, Mahaadil; seadil-adilnya hakim, Maha Pengasih dan Penyayang; melebihi kasih dan sayang orang-orang di sekelilingku yang mengasihi dan menyayangiku. Mereka tidak ada saat aku terpuruk, sedih, dan menangisi sensitivitas perasaanku. Mereka tidak ada saat aku membutuhkan sebuah dukungan moral. Tidak, hanya Engkau yang selalu mengisi setiap detik kehidupanku, di mana aku membutuhkan cinta seorang teman yang kutahu takkan meninggalkanku. Tak pelak hati ini menangisi apa yang telah kulakukan di masa lampau, jauuh dari-Mu, yang memiliki segalanya yang kubutuhkan.

Masih kurangkah itu? Apa lagi yang diharapkan seorang hamba setelah hidayah-hidayah yang didatangkan oleh-Nya? Begitu naifnya manusia yang Engkau ciptakan ini, ya Allah. Tapi Engkau tidak pernah meninggalkanku, Maha Suci Engkau. Engkau selalu bersamaku, menyertai setiap langkah kakiku yang tengah kugerakkan di jalan-Mu.

Sujudku pun tak kan memuaskan inginku untuk haturkan sembah sedalam kalbu. Ada pun kusembahkan syukur pada-Mu ya Allah, untuk nama, harta, dan keluarga yang mencinta, dan perjalanan yang sejauh ini tertempa. Alhamdulillah, pilihan dan kesempatan yang membuat hamba mengerti lebih baik tentang makna diri. Semua lebih berarti apabila dihayati. Alhamdulillah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s