Asri pertama membuka mata di sebuah kota indah bernuansa pegunungan, Bogor. Tapi tak lama dinikmati oleh kepalaku yang kecil, aku dipindahkan ke kota yang jauuh dari jangkauan, (Bandar) Lampung. Lupa juga pada usia
berapa tepatnya aku dipindahkan ke sana. Di tempat ini juga, kabarnya mama dan bapakku bertemu di kantor mereka yang sama saat itu, sebuah pabrik pembuatan Gula (atau pengolahan tebu), Gula Putih Mataram (GPM). Seingatku, suasana kota itu benar-benar berbeda dari Bogor: sumpek, deh. Dan karena kami tinggal di perumahan dekat pabrik, suasana pabrik sangat terasa. Jauh dari perkotaan. Untuk mencapainya, dibutuhkan waktu yang tidak sedikit. Pun melalui jalan yang hanya menghamparkan perkebunan tebu. Mungkin itulah mengapa bapak memilih mobil Jeep yang kuat, karena kami juga sering mengunjungi nenek dan kakek di Bogor.
Sekolah pertamaku adalah TK GPM Lampung (itu pun namanya ku
rasa seperti itu, karena sampai sekarang tidak ada yang mengingatnya). Kuceritakan ya, TK itu terletak di ujung area pabrik, jadi kami para siswa-siswi yang kecil-kecil harus menaiki jemputan untuk menuju sekolah yang apabila ditempuh dengan jalan kaki sangatlah jauh. Dan bangunan TK-nya saat itu sih memang memadai; dengan
lantai kayu dan ruangan yang kecil, haha. Di situlah aku menghabiskan masa kanak-kanak yang indah.![]()
Pernah suatu ketika, entah apa yang sedang kupikirkan, aku tidak menaiki jemputan pulang (ataaau ditinggal ya, lupa juga). Intinya, sambil meratap aku pun berjalan kaki menyusuri jalanan penuh debu (serius, berdebu enggak jelas) yang panjang itu. Kemudian, setelah melihat hamparan tebu, aku pun melihat sebuah bangunan di tengah-tengah kebun. Bangunan itu adalah sebuah supermarket. Iya, supermarket di tengah-tengah kebun tebu. Jadi, dari rumahku pun jauuuh sekali untuk mencapai supermarket itu. Dari situlah kemudian aku bertemu seorang pemuda di
motor. Lupa juga sie mukanya, tapi ternyata dia m
engenalku sebagai anak orangtuaku (maksudnya, dia mengenal orangtuaku). Jadilah aku naik motor sampai rumah, hehehe. Emang bantuan Allah ada di mana-mana.
Seperti yang kuceritakan, area pabrik ini luasnya minta ampun sehingga
rumah-rumahnya pun bisa memiliki area yang cukup luas. Jadi, di sini rumahku dua-duanya (aku dua kali pindah rumah) sangaaat luas. Kalau di Jakarta (di Bogor pun), mana bisa bikin rumah yang luas lagi. Udah enggak ada lahan. Saking luasnya, di rumahku yang kedua, setiap mau makan aku selalu diajak jalan-jalan kebun. Ada fotonya, tapi serius aku LUPA banget itu di mana. Enggak ngerasa, pula.
Saking luasnya juga, masih ada tempat untukku membalikkan kursi-kursi di rumah. Ha!
Ha! Jadi ceritanya, orang-orang rumah sedang tidur siang dan aku kecil sangat-sangat membenci tidur siang (tapi itu waktu kecil, sekarang kerjaannya tidur siang). Jadi karena bosan rumah kosong dan sepi, aku pun membalik-balikkan kursi. Aneh memang, tapi nyata, euy!
Tak lama pun, saat aku mulai beranjak ke Sekolah Dasar (eSDe), aku dipindahkan ke
Bogor tanpa orangtuaku. Orangtuaku berpikir (mungkin ya, sebuah analisisku dewasa ini)
untuk memajukan pemikiran dan pandanganku dari sebuah kota yang maju seperti Bogor, tidak di ujung kota Lampung. Pertama menginjakkan kaki di Bogor, aku pun tinggal di rumah nenek dan kakek seorang diri. Itulah mengapa aku juga dekat dengan nenek, seakan beliau seperti ibu kedua. Tinggal di rumah nenek membuatku juga dekat dengan paman-pamanku (soalnya kalau pake kata ‘om’ kesannya gimana gitu.. Haha)>>karena mama anak kedua dari lima bersaudara dan semuanya laki-laki, jadilah masih ada tiga paman lagi di rumah nenek. Aku sebagai cucu perempuan pertama pun jadi ‘mainan’ mereka. Karenanya banyak fotonya tuh yang mereka ambil, sayang aja udah pada
difigura; klisenya ilang juga.
Bogor pun menjadi tempatku tumbuh dan bermain pada masa kecil. Jadi inget lagu mars Bogor: Bogor kota indah sejuk nyaman, bagai bunga di dalam taman. Selalu disinggahi wisatawan, sungguh menarik perhatian. Di sana aku dilahirkan dan aku dibesarkan, di kota kesayangaaaan. Di sana aku dilahirkan dan aku dibesarkan, di kota kesayangan. Haha. Masih ingeet. Jarang lho yang tahu lagu ini, kayaknya cuma generasiku aja. Berikutnya, udah enggak ada yang tahu.
Asri pun memasuki sebuah sekolah swasta Islam terbaik di Bogor, SD Bina Insani Bogor. Nah, karena aku tuh masih tergolong malu-malu, selama beberapa hari aku ditemani mama di dalam kelas. Ha! Ha! Enggak tahu ya, kalau skrang inget, malu banget deh. Aku tuh satu-satunya murid yang ditemani mama di dalam kelas. Duh. Berikutnya, ketika beliau kembali ke Lampung, giliran nenekku yang menemani. Seingatku, beberapa hari juga di dalam kelas. Kemudian, beliau menunggu aku di luar. Pokoknya, harus dalam jarak pandangku. Hehe. Pernah suatu saat, aku enggak ngerti tentang sebuah pelajaran. Aku pun berlari ke tempat nenek menunggu, yang emang sedikit jauh. Hihi. Ngerepotin nie, malu deh..
But, I love my family soooo much. Pengen teriak sekenceng-kencengnya tentang itu. Menghabiskan waktu dengan mereka melebihi segala hal di dunia ini. Oke, kecuali waktuku bersama-Nya, tentunya. Tapi selain itu, they’re everything! I love ‘em. I love Bogor.
lho itu foto2.jpg [http://ashreew.files.wordpress.com/2007/07/foto2.jpg] sama asr.jpg [http://ashreew.files.wordpress.com/2007/07/asr.jpg] gmbr ukh Asri ya? laki apa perempuan sih sebenernya???
hahahahahahahha….
sayangnya iya… ana emg kya cowok banget deh wktu dulu.. :p
Oalaaaah, ini tho yang namanya mbak Asri…