Pilihan Atau Takdir
November 6th, 2011 § 2 Comments
Saya mau mencoba menganalisis perbedaan antara pilihan dan takdir. Terkadang dua hal ini rancu terjadi dalam keseharian kita; itu juga yang memicu terkadang kita menyalahkan Sang Khalik. Dalam QS Ar-Ra’ad ayat 11:
“…Sesungguhnya ALlah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS 13: 11)
“…Verily, ALlah will not change the (good) condition of a people as long as they do not change their state (of goodness) themselves (by committing sins and by being ungrateful and disobedient to ALlah). But when ALlah wills a people’s punishment, there can be no turning back of it, and they will find besides Him no protector.” (QS 13: 11)
Ayat Alquran ini membahas tentang pilihan. Sebenarnya, bukan ALlah yang menentukan nasibmu; tapi kamu sendiri yang mengubahnya. Ustad Quraish Shihab pernah menjelaskan dalam salah satu episode Tafsir Al-Mishbah beliau–yang buat saya seperti jawaban saya dari pertanyaan yang seringkali masih ada dalam pikiran saya. Eh tapi saya lupa ya, sedang bahas tafsir surat ini atau memang bahasannya sama.
Beliau menganalogikan kira-kira seperti ini mengenai pilihan: “Misalnya kamu sakit, pilihannya antara pergi ke dokter atau tidak. Semua ada akibatnya. Kalau ke dokter, mungkin, sembuh. Kalau tidak ke dokter, bisa saja masih sakit.” Dua pilihan itu bisa kita ambil, tapi yang memutuskan itu kita.
Analogi sederhana itu mengajarkan saya tentang pilihan. Ternyata, keadaan kita seperti sekarang ini bisa jadi memang karena pilihan kita. Kita bekerja di tempat sekarang? Itu pilihan, karena sebenarnya kita bisa mencari yang lain kalau mau. Kita tidak bekerja? Itu pilihan, bisa saja usaha kita masih kurang. Kita tidak mendapat nilai bagus? Itu akibat saat kita memilih tidak belajar, misalnya. Kita kufur? Itu pilihan ketika kita memilih menjadi malas.
Kita kafir? Itu pun pilihan.
Sesuatu bisa menjadi takdir jika memang itu di luar batas kemampuan kita yang cetek sebagai manusia: ini kuasa ALlah. Kita berada dalam keluarga sekarang? Itu takdir, karena kita tidak bisa memilih di keluarga mana kita dilahirkan. Kita meninggal? Itu takdir, karena tidak ada yang tahu waktu ajal kita, bahkan setelah ke dokter sekali pun.
Jadi, di saat kita merasa gagal atau kecewa, ALlah adalah Yang paling tidak bersalah dalam masalah ini. Kita, sebagai manusia, pasti punya khilaf, disadari atau tidak. Setiap kegagalan yang ada, setiap kekecewaan yang ada; semua bisa terjadi karena kesalahan kita sebagai manusia yang bersangkutan.
Hati-hati. ALlah sayang kita. Jika bisa, Dia akan menjadikan semua makhluqnya tunduk kepada-Nya. Tetapi manusia seringkali ingkar janji; mereka tergiur keindahan dunia fana. Dan ini pilihan mereka.
Analogi sederhana itu mengajarkan saya tentang pilihan. Ternyata, keadaan kita seperti sekarang ini bisa jadi memang karena pilihan kita. Kita bekerja di tempat sekarang? Itu pilihan, karena sebenarnya kita bisa mencari yang lain kalau mau. Kita tidak bekerja? Itu pilihan, bisa saja usaha kita masih kurang. Kita tidak mendapat nilai bagus? Itu akibat saat kita memilih tidak belajar, misalnya. Kita kufur? Itu pilihan ketika kita memilih menjadi malas.
+1
Saya setuju dengan semua pendapat anda !