No Talk, Write Only

what I see, I think: I write

Hari Menulis-di-Perpustakaan

Tak menyangka kampus bisa seramai ini. Memang bisa dibayangkan, karena setiap awal perkuliahan akan penuh. Tapi, penuh kali ini berbeda. Mungkin karena saya bisa saja berbeda hampir empat tahun dengan mereka.

Satu yang saya rasakan saat memasuki gedung kampus, I don’t belong here. Tapi, saya harus berada di sini, mau atau tidak (bahkan ‘tidak mau’ bukan lagi sebuah pilihan), suka atau tidak.

Tempat yang membuat saya nyaman masih tidak berubah: bagian tandon perpustakaan. Jika memungkinkan, saya bisa tidak meninggalkan tempat ini. Di sini, ada sofa hitam yang nyaman, tempat saya bisa nyaman membaca atau pun menulis ini.

Read the rest of this entry »

Filed under: Catatan Harian

Manis

Diakui atau tidak, rasa rindu ini ada. Selayaknya denyut jantung yang berdetak setiap saat, atau senyum yang terlempar. Atau, hanya sebuah kenangan yang teringat. Atau setiap kata yang terucap. Atau, hanya kemungkinan saja, yang bahkan ternyata merupakan sebuah perumpaan yang tidak pernah terjadi. Jauh dari kenyataan.

Diakui atau tidak, saya munafik. Saya akui itu, akhirnya. Berjalan pun perlu berpikir. Apalagi berbicara. Tak pernah satu kata pun terucap tanpa berpikir sebelumnya. Pernah bertanya suatu saat, ‘Pikiran saya terbuat dari apa sih?’ Tak lelahkah dia untuk berpikir? Simpan barang satu detik saja untuk istirahat. Tapi tak pernah, Dia tak pernah mengizinkannya untuk beristirahat. Kalau begitu, bisakah saya beristirahat?

Read the rest of this entry »

Filed under: Catatan Harian

Firasat

Seminggu ini aku merasa di tubuh yang salah. Ini bukan diriku yang ingin kukenal, kuping yang tahu-tahu mendengar tiupan angin seperti memanggil nama seseorang; mata yang menangkap pola awan di langit seperti raut muka seseorang. Kemarin, aku merasa membaui wanginya di mana-mana. Hari ini, aku merasa melihat wajahnya di banyak wajah. (Recto Verso – Dee)

Aku tak pernah sanggup menuliskan simpulan terakhir. Kenyataan, pada akhirnya, adalah sesuatu yang paling ditakuti untuk dihadapi. Aku tak berani keluar. Hatiku terlalu rapuh. Bohong kalau aku kuat, bohong kalau aku tabah. Terkadang, Allah Sang Maha Memiliki Hati tak berkenan hatiku dirampas manusia.

Jangan pergi lagi.

Filed under: Part of My Point of Views

Bangga, Indonesia

Membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer, sedikit memupuk semangat nasionalisme. Bukan yang radikal, tentu. Pastinya, semangat dan kebanggaan untuk bertanah air Indonesia. Juga semangat untuk memiliki Indonesia. Dan semangat untuk mencintai Indonesia.

Terlebih, saat meresapi kehidupan Minke. Pria itu, yang tadinya membenci tanah airnya karena orang-orangnya begitu terbelakang, akhirnya berusaha keras untuk turut serta membangun negerinya. Dia, yang tadinya menolak untuk berbicara bahasa melayu (belum diresmikan menjadi bahasa Indonesia), akhirnya dengan bangga menggunakan bahasa melayu.

Read the rest of this entry »

Filed under: Catatan Harian, Part of My Point of Views

Healthy Tips

Vaseline Petroleum Jelly adalah sebuah produk perawatan yang tak terhingga manfaatnya. Mulai dari perawatan kulit kering sampai perawatan barang-barang besi dari karat. Walau bermanfaat, Vaseline Petroleum Jelly tidak mengandung bahan kimia sehingga aman dipakai. Tidak lagi dibutuhkan body lotion, lip care, moisturizer, dan semua produk perawatan lainnya: karena yang Anda butuhkan hanya sebuah boks kecil Vaseline Petroleum Jelly. Karena it's doing it all!

Twitter Updates

Widen Your Sight