Kira-kira tiga tahun yang lalu, dengan takut-takut saya menginjakkan kaki sendirian di kota yang masih asing bagi saya. Jakarta. Dulu, saya hanya ke Jakarta kalau ada arisan keluarga di rumah-rumah tetua keluarga besar, atau kalau lagi jemput mama di kantor/bandara atau ditraktir makan ama beliau. Intinya, belum pernah saya menginjakkan kaki di Jakarta dengan memiliki tujuan pribadi. Begitu juga dengan transportasi; tidak pernah saya mengenal alat transportasi antarkota selain mobil keluarga saya. Padahal, untuk transportasi antarkota yang lebih jauh seperti Surabaya atau Yogyakarta, saya justru lebih tahu. Entah itu kereta atau bus. Tapi, Jakarta? Ah, tidak tahu.
Kurang gaul? Mungkin. Saya memang kurang gaul dengan supir bus atau masinis.
Awal masuk kuliah, transportasi saya ke Jakarta pun masih mobil keluarga. Kebetulan mama juga masih kerja di daerah Sudirman, jadi bapak sekalian menjemput kami berdua. Satu minggu, dua minggu; masih menggunakan mobil. Minggu ketiga, entah karena apa, saya mulai berpikir transportasi umum. Akhirnya, saya dan rekan kampus menjelajahi stasiun Tanahabang. Sebenarnya, saya punya sepupuĀ aneh di kampus; satu jurusan juga tapi satu tahun di atas saya. Tapi, saking anehnya; saya malah mau diajak jalan-jalan ke mall. Dasar. Kayak di Bogor enggak ada mall aja. Pada akhirnya, saya pun berkeliling Jakarta dengan salah satu rekan kampus terdekat saya pada awal kuliah, Rina. Lucunya, kami sama-sama enggak tahu Jakarta. Alhasil, tempat yang kami datangi adalah…. Pasar Palmerah. Cihuuy.
Kembali ke topik. Saya dan Rina menjelajahi stasiun Tanahabang. Dengan penuh semangat, saya mencatat jadwal-jadwal kereta Pakuan Ekspress Tanahabang-Bogor. Hari berikutnya, saya pun mencoba menaiki kereta untuk pulang ke Bogor. Karena takut terlambat, saya berangkat satu jam sebelumnya. Duh. Alhasil, harus menunggu di stasiun selama satu jam juga [tahu tradisinya kan]. Masalahnya, karena emang baru pertama plus sendiri plus masih polos enggak tahu apa-apa, saya selalu panik setiap mendengar pengumuman kereta datang. Setiap ada pengumuman, saya selalu bertanya pada orang yang berdiri di dekat saya. Padahal, kereta baru tiba setengah jam kemudian.
Kereta Tanahabang-Bogor yang pertama saya naiki masih eksklusif. Kereta itu yang sekarang berubah menjadi Kereta Ciliwung [plus cat warna-warni aneh yang dulu belum ada]. Tapi, di kereta ini pula saya belajar tentang ’sebuah perjalanan’. Dari mulai, bagaimana tidur yang baik, duduk yang baik, bersandar yang baik. Kereta yang katanya menjadi kereta buangan di Jepang [atau Korea ya] ini menjadi teman perjalanan saya selama beberapa bulan; sebelum akhirnya diganti menjadi kereta Ekspress biasa dengan tempat duduk memanjang. Seiring digantinya kereta, semakin banyak pula penumpangnya. Nah, itulah mengapa saya bilang dulu masih ekslusif.
Saat ini, saya berubah wujud menjadi sang petualang. Ha. Kok bisa begitu ya? Pertama, karena saya sering cepat bosan akan sesuatu. Sekalipun sudah ada tempat kos, maunya pulaaang terus. Ya, bisa diduga: secara pulang ke Bogor. Semester dua, saya mencoba pulang-pergi; yang merupakan fase terberat. Berhubung belum aktif di organisasi, belum terlalu banyak pikiran sehingga tidak terlalu lelah. Yang lebih penting lagi, belum sering begadang sehingga masih bisa bangun pagi. Ha.
Kedua, karena perjalanan itu merupakan tempat belajar yang paling beragam. Saya suka memperhatikan sekitar, dan dengan itu saya belajar banyak hal tentang dunia. Intinya, apa yang saya dapatkan dalam perjalanan tidak diajarkan di kelas mana pun. Ketiga, karena sudah aktif di organisasi, sudah terlalu banyak pikiran. Dan berpikir adalah hal yang saya lakukan di Jakarta. Sementara, selama berada di jalan adalah fase saya untuk istirahat sejenak. Yaa, setengah rileks setengah mikirin masalah juga. Nah, barulah ketika berada di Bogor MURNI istirahat. Makanya di rumah saya terkenal selalu tidur. Bisa sampai 12 jam tuh. Bayi ajaib.
Tiga tahun sudah mengenal Jakarta. Yaa, Jakarta Barat lah setidaknya. Karenanya, saya hendak berbagi informasi tentang transportasi yang bisa membawa Anda menuju Jakarta dari Bogor atau menuju Bogor dari Jakarta. Dengan rujukan Jakarta: kampus BINUS dan Bogor: daerah Semeru.
Bogor-Jakarta (Bus)
- Bus Bogor-Kalideres (12000[AC]/10000[Non-AC]). Berada di lajur keempat (kalau ga salah, lupa juga) di terminal Baranangsiang Bogor. Cara kerja bus ini lumayan unik; bus harus penuh sampai penumpang ada yang berdiri, baru jalan. Kalau dapat yang AC sih lumayan, tapi kalau dapat yang non-AC: hanya ALlah yang tahu. Emosi benar-benar dicoba deh di sini. Biasanya ya, bus Bogor-TanjungPriok di lajur sebelahnya sudah berganti selama tiga kali, bus ini belum tentu sudah jalan. Nasib, nasib… Tapi, bus ini praktis buat ke BINUS, karena langsung ke Slipi Jaya dan ketemu M24 yang melewati tiga kampus sekaligus. Dan, jika sudah berangkat hanya membutuhkan tak kurang 45 menit untuk sampai tujuan (Slipi Jaya). Itu tanpa macet yaa…
- Bus Bogor-LebakBulus (12000). Nah, bus ini pelayanannya LUAR BIASA. Salut untuk rekan-rekan Agra Mas [sok kenal]. Dengan timing setiap lima-belas menit, bus ini sudah jalan; penuh atau tidak. Kelemahannya, bus ini terbilang mahal. Bukan karena pelayanannya, tapi juga karena tarif tol lingkar luar Jakarta (daerah TB Simatupang) yang mahal. Selain itu, bus ini tidak sampai tujuan; harus nyambung lagi. Naah, nyambung lagi bisa naik Metromini 102 Ciputat-Tanahabang. Kalau sekitar jam14.00 ke bawah, saya tidak sarankan menggunakan rute ini: macet di daerah Radio Dalam atau menuju Moestopo. Dan, kalau terburu oleh waktu; lebih baik tidak naik metromini, karena rute menuju Slipi lumayan berputar-putar dan menghabiskan waktu. Lebih baik naik taksi (40000an) dari Point Square atau ojek (25000) sampai kampus Anggrek.
- Bus Bogor-UKI (7000). Ini bus paling fleksibel yang pernah ada. Berangkat tak kurang dari setengah jam, karena memang cukup banyak penumpangnya [tidak seperti bus Kalideres]. Masalahnya, Anda harus bisa meyakinkan diri bus mana yang lebih dahulu berangkat. Setiap perjalanan, ada 2 bus Bogor-UKI; yang penuh duluan yang jalan. Maka, sering-sering berdoa bus yang Anda naiki yang lebih cepat penuh. Tetapi, bus ini juga mesti nyambung lagi di daerah UKI. Bisa disambung dengan bus yang menuju Grogol, seperti P6 atau 46. Saya sarankan, kalau diburu waktu, lebih baik P6 (3000) karena masuk tol, terbilang lebih cepat karena sering macet di Semanggi luar tol. Tetapi, kalau ingin merasa nyaman duduk sendiri dan tidak diburu waktu, lebih baik 46 karena tidak masuk tol dan tarif terbilang lebih murah sedikit (2500).
- Rute ‘brutal’ (belum dicoba). Kenapa saya bilang ‘brutal’, karena saya tidak diizinkan menaikinya oleh orang tua. Bukan apa-apa, cuma karena rute ini tidak lewat tol. Aneh memang, sesuatu yang tidak biasa selalu dilarang. Yak, rute itu adalah: Metromini Bogor-Parung, Bogor-Kampung Rambutan. Kalau dari Parung, sedikit ada bayangan, setelah itu naik angkot Parung-LebakBulus yang dilanjutkan Metromini 102. Baru bayangan ya, saya mau mencoba sih ke depannya. Sementara, untuk metromini Bogor-Kampung Rambutan; saya tahu P6 dari Kampung Rambutan. Belum tertarik untuk mencoba, mungkin bisa jadi referensi kalau lagi pusing mikir skripsi suatu hari nanti.
Bogor-Jakarta (Kereta)
- Pakuan Ekspress Bogor-Tanahabang 05.40, 06.10, 08.00. Harga: 11000. Saran saja untuk yang keberangkatan pukul 06.10; highly recommended jangan pakai rok (bagi cewek). Hal itu karena adanya ‘aksi’ pemanjatan kereta. Haha. Serius. Berhubung penuh, kita-kita sang penumpang rela berebut tempat duduk sampai mengejar kereta yang masih parkir. Tapi, tinggi kereta yang harus dipanjat kira-kira sebahu saya. Jadi, kebayang dong seberapa tinggi. Tidak etis aja kalau pakai rok. [PS: tapi dulu saya pernah sukses memanjat pakai rok panjang; entah bagaimana] Sementara itu, keberangkatan pukul 08.00 sedikit dipenuhi penumpang. Saran saya untuk dapat duduk, Anda menunggu kereta berhenti dari pintu kanan, yang tidak mengharuskan Anda menyeberangi rel (dengan asumsi Anda masuk dari pintu depan stasiun Bogor). Cara ini memang mengharuskan Anda memanjat, tapi tidak setinggi yang pukul 06.10. Nah, karena harus manjat, sedikit orang yang masuk dari pintu ini, sehingga bisa lebih cepat masuk kereta dan lebih cepat mencari tempat duduk. Hehe. FYI, kereta pukul 08.00 tidak bisa dikejar ke tempat parkirnya, karena memang merupakan kereta dari Tanahabang yang dipakai sebelumnya, pukul 05.40. Sementara, untuk keberangkatan 05.40, saya sudah tidak bisa mengikuti lagi, saya akui.
- Pakuan Ekspress Bogor-Jakarta Kota; waktunya lupa [seringnya tanya sama temen saya yang di London School] karena jarang naik ini. Harga: 11000. Naik kereta ini kalau mendadak malas ke terminal Bus dan tidak ada jadwal kereta Tanahabang. Berbeda dengan kereta yang ke Tanahabang, kereta ini sedikit menjauhi tujuan saya yang hendak ke kampus. Sekali waktu, dulu saya pernah salah naik kereta ini: karena jadwalnya berbarengan dengan kereta Tanahabang, dan dua rangkaian kereta itu berhenti bersebelahan. Saya yang takut tertinggal langsung bertanya pada salah satu tukang koran langganan; dia pun menunjuk salah satu rangkaian. Lalu tiba-tiba, feeling not so good ketika menyadari dari Stasiun Manggarai kereta membelok ke arah kanan. Seakan melengkapi, dari speaker pun terdengar suara masinis, “Sebentar lagi kereta akan memasuki Stasiun Gondangdia.” Argh. Alhasil turun di Gondangdia, naik bajaj ke daerah Petamburan dengan tarif 20000. Weks, dua kali lipat harga kereta.
- Ekonomi AC Bogor-Jakarta Kota 09.25 [waktu yang lain, lupa. Seringnya naik yang waktu ini aja soalnya]. Harga 6000 [atau 7000 ya? Aduh, lupa... Seringnya tidak menghitung kembalian]. Kereta ini ekonomis, sekalipun tetap berhenti di setiap stasiun. Ekonomisnya, bisa berhenti di Stasiun Cawang. Dari situ tinggal naik 46 ke Slipi atau Slipi Jaya. Tapi yaa, siap-siap aja macet di Semanggi.
Jakarta-Bogor (Bus)
Belakangan saya sedang senang naik bus kalau hendak pulang ke Bogor, secara bus tidak terikat dengan waktu. Mau pulang semalam apapun, masih ada. Kalau kereta, sedikit harus mengejar waktu. Dan sedikit tidak suka, hehe.
- Bus UKI-Bogor. Harga: 7000. Kata rekan saya yang baik yang bernama Andry, rute bus ini 24 jam. Katanya, beliau pernah membuktikan pukul 23.00 yang masih tersedia bus. Tapi, tidak seperti yang dari arah Bogor, bus dari UKI tidak menunggu sampai penumpang penuh. Soalnya itu kan bukan terminal melainkan tempat pemberhentian. Seringnya digedor-gedor polisi, jadi berangkat cepat. Bus UKI-Bogor ini bisa dicapai dengan P6 atau 46 dari Slipi atau Slipi Jaya. Plusnya, bus ini seringkali full live music. Keren khan?
- Bus Lebak-Bulus-Bogor. Harga: 12000. Bus ekslusif ini tidak 24 jam. Dulu, pernah saya tiba pukul 21.00, dan petugas di sana dengan santainya berkata, “Wah, uda terakhir tadi, Mbak.” Argh. Padahal saya stress, jam sgitu mau naik apa dan di mana. Tapi seringkali bus penuh seiring jam pulang kantor. Kalau begini, enaknya naik dari terminalnya, karena masih kosong. Bus bisa dicapai dengan metromini 102, yang muter-muter-muter rutenya. Tapi nikmat aja menikmati perjalanan.
- Bus Kalideres-Bogor. Harga: 12000. Lihat deh, seharga dengan bus Lebak Bulus, kan? Tapi, sadar enggak sih jauhan mana? That means, service does matter. Bus yang ngetem ampe bikin lumutan ini sering bisa ditemukan parkir di Slipi, depan JDC mulai pukul 17.00. Seperti yang lainnya, kalau yang jam-jam pulang kerja sering penuh. Makanya saya sering pulang malam, juga untuk menghindari macet.
Jakarta-Bogor (Kereta)
Khusus kereta dari arah Jakarta, saya tidak mencari sampai ke Stasiun Kota atau Cawang. Hanya mencari dari Stasiun Tanahabang, sehingga pilihan pun hanya sedikit.
- Tanahabang-Bogor 16.40, 17.10, 17.40. Harga: 11000. Beberapa waktu selama awal kuliah, saya mengejar-ngejar kereta kayak apaan tahu [bahasanya ga bagus banget]. Sekarang, biasanya saya tidak mengambil resiko di titik macet mendekati pasar Tanahabang. Karenanya, saya naek ojek dari depan kompleks asrama TNI (bilang aja sama supir angkot). Kenapa dari situ? Karena, tukang ojek di situ masih mau dibayar 2000 (eh, ini jaman dulu ya, sebelum BBM naik). Sementara, opsi lain, tukang ojek di pangkalan depan RS Pelni, maunya dibayar 5000. Bahh. Beda banget jauhnya. Jadi, saya tahu pangkalan ojek mana yang rate harganya lebih ekonomis. Hehe. Dengan ojek, waktu bisa lebih singkat, dan seringkali tiba di stasiun tepat waktu.
Sekian. Semoga bermanfaat.
Filed under: Percikan Iseng , Add new tag, rute bogor jakarta
Ayo mbak, silaturahim ke Jogja lagi! SGPC menanti
eh SGPC atau sego macan, yang katanya mbak dulu itu?
SGPC….
Iya bos… Siapp.. Ntar bulan madu* ke sana deh, ehehe.. Kangen juga nih ama Kota Gede, he..
* cuma kiasan, jgn dianggap serius…
^-^
a’ andry dibawa2..
bilangin urangnya daah..
hehehe…
BOgorr??!!!
bosan…
huahaua….
kecuali mie tiaw, kue tiaw, cap cay jack..
lemayan..
hmm… akh andry ga dbawa2 juga sih akh…
berattt…
[lho??]
eh…itu menuu, kok kya di &$%^&$$$ ???
-_-
hoo jadi kangen bogor bogor bogor..
ukh ulas mengenai angkot di bogor dunk..
dari staisun kek.. terminal kek..
mau yang ke arah gumati kek.. puncak kek.. kebun raya bogor kek..
intinya nyampek..
paling penting yang melewati rute2 kuliner dari sop buntut mang ndun sampe apel pie..
oh ya satu lagi.. paling pusing kalo mw ke rancamaya..
masuk perumahannya ndak ada angkot.. ada ide lain..??
mau mau mau
@bayu
ulas angkot d bogor? hmm, organda brani bayar berapa yaa… Mksudnya ulas rute angkot ya? Duh, uda tahu angkot d bogor segambreng…
satu tips aja klo mw ke mana-mana di bogor; yaitu BERTANYAlah… Malu bertanya, Anda akan sesat di jalan. InsyaALlah, orang-orang Bogor tidak mnyesatkan. Uhahaha…
Eh, masuk Rancamaya ga naek angkot? Abang ojek bukannya uda menanti? Atau… Kalau mau, bisa berjalan kaki menikmati perusakan alam oleh Rancamaya [ups].
Mbak, bus ke arah Bogor yang dari Lebak Bulus itu naiknya dari mananya? Berapa lama perjalanannya? Hmmm…nggak 24 jam ya, tapi kalo jam 6 pagi dah pasti ada kan…makasih.
Bus ke Bogor dari Lebak Bulus naiknya dari bagian dalam. Masuk aja terus, biasanya di deket bus Tasik/Bandung. Bus Bogor-Lebak Bulus warna merah Agra Mas, beda sendiri kok.
Tapi sepertinya ga 24 jam. Jam 9 mlem uda selesai. Kalau mulai pagi jam brp saya kurang tahu ya.. Mungkin sudah ada..
Bagus nih ulasannya… Apalagi buat orang-orang Bogor yang pengen tahu alternatif ke Slipi dari Bogor.
Untung rute saya tidak sejauh itu, hanya sampai Sudirman…
@Tri Drian
Wuah…enak ya di Sudirman.. Lokasi paling strategis dicapai dari Bogor. Strategis macetnya juga, sih… HIhi..
thx ya info’y..
aq mw nyoba plg lwat bogor, biasany aq lwat serang.
btw, aq jg dbinus loh!
lam kenal ya…
alex zhu
oya, klo dr slipi naik p6, trs turun d’uki nya gmn? nybrak dlu to ga usah? hehe
@alez zhu
oh binus juga? haha…
klo mau ke bogor naik P6 ke UKI, ga usa pake nyebrang kok…
wah..thanks banget yah..
sangat membantu..=)
klo naik bus dr Bogor k Lb.Bulus paling malem jm brapa y?
N rute Bogor – Lb.Bulus tu lewat Cilandak kan?
Dari bogor ke Lb Bulus ya? Kurang tahu juga ya… Tapi waktu saya naik dari Lb Bulus yang paling malam (jam9), pas nyampe terminal Bogor uda ga ada bus Lb Bulu. Berarti mungkin jam 9 juga ya paling mlem dari Bogor.
Iyap, lewat Tb.Simatupang, Cilandak juga. Klo ga salah, keluar juga di tol Cilandak, tp masuk lagi trus keluar lagi di tol (lupa namanya apa) lgsg ke Lb Bulus.
Makasih uda mampir.