Seringkali saya bertanya-tanya, mengapa saya memiliki watak seorang pemberontak (dalam arti yang lembut). Seringkali saya heran, karena bahkan di keluarga saya pun tidak segitu-gitu amat. Tanda tanya besar selalu muncul dalam diri saya; apakah saya? Mengapa pikiran saya begitu liar mengembara ke mana-mana tanpa memikirkan waktu sementara sekeliling saya tetap berada di tempatnya? Rupanya, saya baru menyadari mengapa. Read the rest of this entry »
Filed under: Catatan Harian, Emosiku, Kecewaku
Saya diberitahu tema film ini mengenai tragedi WTC. Penasaran, saya pun mencoba menontonnya. Dan cukup satu kalimat untuk film ini: ‘How dare they…!’ Belum satu menit film ini dimulai, saya sudah terdiam tak berkutik melihat scene pertama yang muncul: close-up sebuah alquran. Maksudnya apa? Kemudian, menyusul seorang pria sedang membaca alquran itu di sebuah kamar hotel. Pria itu terlihat seperti pria Arab. Lalu terlihat empat pemuda Arab lainnya. Selama kira-kira dua menit awal film ini menggambarkan aktivitas keagamaan mereka; mulai dari shalat, mengaji, berdoa. Oh, dan tak lupa, selama dua menit awal film ini juga terlantunkan ayat-ayat Alquran sebagai backsound.
How dare they…! Saking kesalnya saya tidak terpikirkan kata-kata yang tepat. Memang, saya dijanjikan akan melihat sebuah ketidakadilan mengenai Islam dalam film ini. Tapi, dengan ketidakadilan yang tergambar JELAS seperti itu, rasanya sangat mengguncang. Read the rest of this entry »
Filed under: Emosiku, Kecewaku, Semacam Resensi dan Cerminan Hati